Aktor Sosial

Ruslan Ismail Mage

(Direktur Eksekutif Sipil Institut Jakarta)

Persepsi selama ini yang dimaksud aktor adalah orang yang bekerja dalam seni pertunjukan yang mendapat peran utama dalam melakoni sebuah cerita, seperti aktor film atau aktor sinetron. Aktor adalah panggilan buat orang-orang yang mendedikasikan dirinya dalam bidang seni peran. Tidak semua orang bisa menjadi aktor seni peran, tetapi pada dasarnya semua orang adalah aktor yang memiliki perannya masing-masing dalam kehidupan. Aktor seni peran serupa tapi tidak sama dengan aktor politik. Dikatakan serupa, karana aktor seni peran membutuhkan penonton dan panggung untuk beraksi sesuai tuntutan cerita, begitu pula aktor politik membutuhkan panggung kampanye dan dukungan pemilih untuk mencapai ambisinya. Sama-sama harus memiliki kemampuan berektin. Dikatakan tidak sama, karena pada pertunjukan seni peran penonton yang membeli karcis untuk menyaksikan sang aktor idola, sebaliknya di panggung politik selama ini sang aktor politik yang membeli suara untuk memenangkan pemilu (money politics).

Disinilah bedanya aktor sosial! Tidak membutuhkan panggung dan dukungan publik, karena bukan penghibur yang merindukan tepuk tangan penggemar, bukan pemain yang membutuhkan medali penghargaan. Aktor sosial adalah orang yang ihlas dan konsisten mendesain gerakan-gerakan sosial pemberdayaan masyarakatnya. Selalu datang menawarkan solusi-solusi alternatif pemecahan masalah, dan tidak pernah absent disaat rakyat membutuhkan pemikirannya. Ihlas membantu orang lain tanpa target-target tertentu, serta konsisten meladeni sesama dengan senyum.

Bagi aktor sosial, setiap jiwa itu penting tanpa harus melihat ke tubuh siapa jiwa itu bersemayam. Jiwa seorang gelandangan sama saja nilanya dengan jiwa seorang presiden sekalipun, dan tuntutan alami setiap jiwa adalah dianggap penting. Itulah sebabnya bagi aktor sosial setiap jiwa itu penting dalam kondisi apapun, tidak hanya pada saat ada kepentingan tertentu. Bandingkan dengan aktor politik yang hanya ramai-ramai menganggap jiwa rakyat itu penting hanya pada saat musim kampanye pemilu. Setelah pemilu berlangsung kembali jiwa-jiwa rakyat dibiarkan saja merana menggelepar kelaparan dan mengemis untuk mempertahankan hidup.

Filosofi aktor sosial adalah “menjadi pelayan kemanusiaan” dan esensinya itulah tugas negara bersama aparaturnya untuk melayani rakyat, tetapi faktanya di dunia politik nama rakyat hanya dieksploitasi untuk kepentingan politik. Secara normatif semua politisi berbicara dan bahkan berteriak atas nama kepentingan rakyat, tetapi dalam tahap implementasi di lapangan hampir semua politisi tidak mempunyai konsistensi keberpihakan kepada rakyat. Beda dengan seorang aktor sosial yang selalu konsisten dan ihlas menjadi bagian dari perjuangan rakyat mempertahankan hidup. Seorang aktor sosial tidak pernah membiarkan manusia lain sebagai anak yatim piatu berjalan sendiri menggunakan peta buta dalam menyelesaikan persoalan kehidupan sosialnya. Aktor sosial tidak datang membagi uang menebar janji kepada rakyat, tetapi datang menebar silaturahmi untuk menyelesaikan persoalan kehidupan.

Aktor sosial merakyat dengan visi kepemimpinan visioner yang memiliki pandangan jauh ke depan dalam membangun peradaban manusia, bangsa dan daerahnya. Tidak memanfaatkan waktu untuk kepentingan sendiri dan kelompoknya, tetapi bagaimana bersama rakyat merumuskan strategi untuk menggali seluruh potensi bangsa dan daerah dalam menjalankan roda pembangunan ke depan. Jadi sangat tepat kalau dalam Pemilu 2014 rakyat bersatu melakukan revolusi pemikiran mencari aktor sosial untuk menjadi wakilnya di parlemen, karena hanya aktor sosial yang bisa melayani kepentingan rakyat, bukan aktor politik.

Pesan yang ingin disampaikan kepada politisi, kalau ingin memenangkan pemilu dengan meminimalkan biaya politik, harus cerdas dari awal membangun personal branding. Harus mengetahui kapan menjadi aktor sosial dan kapan menjadi aktor politik. Jadilah aktor sosial jauh sebelumnya dengan menyingkirkan semua atribut politik dalam dirinya untuk menyebar jarring-jaring sosial menuju pemilu. Aktor sosial tidak muncul secara instatnt, tetapi butuh waktu dan konsistensi untuk terlibat langsung mendesain kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan. Itulah sebabnya Sipil Institut menyebutnya aktor sosial sebagai seorang desainer yang merancang pola pemecahan masalah, seorang arsitek yang merekontruksi kerangka pemberdayaan potensi masyarakat. Aktor sosial tidak mempunyai waktu bertanam tebu di bibir, karena lebih vokus menanam saham budi pekerti di lahan jiwa sesama.

Kerakter pemilih pada Pemilu 2014 sudah mengalami migrasi pemikiran dari pemilih pragmatis (siapa yang memberinya uang itu yang dipilih) pada Pemilu 2009 ke pemilih kalkultaif (pemilih cerdas mengkalkulasi untung ruginya memilih caleg/partai). Pemilih cerdas mencari akor sosial bukan aktor politik. Hampir 3000 anggota DPR yang terjerat korupsi menjadi alasan pembenar kenapa pemilih anti pati aktor politik dan memilih aktor sosial untuk menjadi wakilnya di parlemen.

Lalu kapan sebaiknya seorang caleg menjadi aktor politik? Aktor politik hanya dibutuhkan di atas panggung kampanye sekedar untuk meyakinkan publik lewat pengeras suara, bahwa telah mewakili sebuah partai menuju Pemilu 2014, bukan untuk mencari kemenangan! Karena kemenangan seorang politisi tidak ditentukan di atas panggung kampanye, tetapi ditentukan oleh konsistensinya hari demi hari menjadi aktor sosial. Jadi kepada caleg, walaupun sudah terlambat, tetapi masih ada waktu tersisa untuk konsisten menjadi aktor sosial menuju 2014. Yakini sejarah akan bangun bertepuk tangan atas kemenangan aktor-aktor sosial di pentas demokrasi 2014.

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.