AMERIKA PARANOID (Takut Kepada Indonesia)

oleh: Ruslan Ismail Mage (Direktur Eksekutif SIPIL INSTIUT)

Di bawah kepemimpinan despotik Pol Pot di Kamboja (1975-1979) Khmer Merah telah membantai seperempat dari penduduk Kamboja. Suatu peristiwa pembunuhan massal (Genocide) yang dilakukan sendiri. Demikian besarnya rasa takut Pol Pot terhadap kelas yang berpendidikan, sehingga hampir semua dari mereka telah dibantai. Setiap orang yang berkecamata atau memiliki tangan halus sudah pasti akan mendapat hukuman mati.

Analogi katakutan Pol Pot di atas kurang lebih sama dengan apa yang terjadi di Amerika Serikat pasca perang dingin sampai sekarang. Ketakutan yang teramat sangat dihinggapi oleh hampir semua pemimpin negara adidaya tersebut terhadap kekuatan Islam yang sedang berproses meraksasa pasca perang dingin. Saking takutnya sampai penguasa Gedung Putih menganggap bayangannya sendirin laksana kekuatan Islam yang selalu mengikutinya dan siap menerkamnya.

Setelah perang dingin berakhir yang ditanndai dengan bubarnya Unisoviet sebagai salah satu negara adidaya, serta merta Amerika Serikat  dengan segala infrastruktur canggih yang dimiliki, berproses menjadi kekuatan tunggal yang mendominasi dunia. Ia menjelma laksana polisi militer yang mengawasi semua lalulintas kehidupan dunia.

Menganggap dirinya sebagai polisi dunia, seenaknya menciptakan opini publik untuk menghukum negara-negara yang tidak patuh kepadanya. Tengoklah aksinya terus-menerus menggempur Afghanistan dengan alasan negara terebut tempat persembunyian tarorisme dunia. Lihatlah tindakannya membungkam PBB ketika dengan arogansinya membombardir Irak, hanya karena dugaan akal-akalannya Saddam Husein menyimpan senjata kimia. Menyusul kemudian dalam bidikannya Irak sebagai salah satu kekuatan Islam yang dianggap selalu menghalang-halangi kebijakan ekonomi politiknya  menguasai minyak di negara teluk.

Dengan kekuatan intelijen didukung kecangihan teknologi informasi yang dimiliki, Amerika Serikat mencoba mendeteksi Islam pasca perang dingin sebagai salah satu kekuatan yang berproses meraksasa dan dianggap bisa membahayakan dominasinya di dunia. Kondisi itu sangat mengkhawatirkan negara yang ekonominya hampir sepenuhnya dikuasai orang Yahudi, karena berdasarkan sejarah kekuatan yang hampir pernah melululantahkan Amerika hanya kekuatan Islam.

Tidak terkecuali Indonesia yang bagi Amerika dianggap pasar paling potensial sekaligus bisa menjadi lawan yang menakutkan. Dikatakan pasar potensial, karena Indonesia sebagai negara ke empat terbanyak jumlah penduduknya tentu secara ekonomi sangat menguntungkan sebagai pasar ekspor. Keuntungan berlipat ganda secara ekonomi ketika bisa memanfaatkan sumber daya alamnya yang melimpah.

Dikatakan bisa menjadi lawan yang menakutkan, karena secara kuantitas kekuatan Islam terbesar di dunia ada di Indonesia bukan di negara Arab. Dengan jumlah penduduk mayoritas Islam yang bersatu didukung kekayaan alam yang melimpah, Indonesia bisa berproses menjadi negara super power yang akan mengancam kecongkakan Amerika di dunia.

Melihat kekuatan Islam mulai bangkit ke permukaan pasca reformasi, terlebih dengan hasil pemilu legislatif 2004 yang memperlihatkan adanya peningkatan perolehan suara partai-partai Islam dibandingkan pemilu 1999, bahkan di Jakarta PKS menempati urutan pertama perolehan suaranya, mengharuskan Amerika mendaurulang strategi klasiknya memecah belah kekuatan Islam di republik ini.

Dengan pengaruhnya yang besar, Amerika memperelat PBB untuk menyatakan bahwa yayasan Al-Haramain pimpinan Hidayat Nurwahid dimasukkan daftar salah satu organisasi teroris dunia, meskipun kemudian Amerika mencabut pernyataan itu. Hal ini mungkin dilakukan untuk mengerem laju PKS sebagai kendaraan politik yang bisa membawa aktivis-aktivis Islam memasuki istana negara.

Jadi kalau penguasa republik ini menyadari potensi negara, sejatinya semua kebijakan global disektor energi yang nyata-nyata merugikan negara, harus di lawan! Jangan terlena disuapi hutang setiap saat, karena strategi hutang adalah metode paling ampuh yang dilakukan Amerika untuk menguasai negeri kaya ini. Padahal pada dasarnya Amerika itu takut kepada ndonesia, karena menurut logika politiknya semua persyaratan untuk menjadi salah satu kekuatan besar dunia sudah dimiliki Indonesia seperti berikut ini.

Pertama, Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah yang kalau dikelola dengan baik bisa menghapus ketergantungan kepada dunia luar, sehingga secara ekonomi bisa menjelma menjadi negara mandiri yang disegani. Kedua, kekuatan Islam terbesar di dunia secara kuantitas berada di Indonesia, sehingga ketika bersatu membangun bangsanya maka bisa menjadi negara super power.  Ketiga, Indonesia banyak memiliki tokoh politik yang mampu mensinergikan kecerdasan intelektualnya dengan kecerdasan spiritualnya, sehingga bisa mengemas kekuatan dahsyat melawan hegemoni negara sekuler.

Karena itu, sebagai rakyat biasa, kita jadi bingung melihat tingkah laku tokoh-tokoh politik dan pengelola negeri ini hanya sibuk saling sikut dan mencelah sesama anak bangsa. Padahal musuh utama yang paling mengancam eksistensi kita sebagai negara yang merdeka adalah kapitalisme global yang dimotori Amerika CS.

Apakah tokoh politik dan penguasa sekarang tidak sadar atau pura-pura BEGO bahwa republik ini memiliki potensi besar untuk menjadi negara mandiri secara ekonomi, disegani secara politik, dan terhormat secara budaya. Atau mungkin kelewat sadar sehingga banyak yang menikmati menjadi AGEN Amerika Serikat untuk menggadaikan atau bahkan menjual negaranya.

Nampaknya pemuda Indonesia perlu disumpah lagi untuk selalu bersatu dalam perbedaan, memproteksi negaranya dari kekuatan asing yang masuk memperok-porandakan ke bhinnekaan kita. Kalau bersatu mengelola kekayaan sumber daya alam yang terhampar luas diperut ibu pertiwi, maka benar kata Bung Koarno : Inggris kita bisa linggis, Belanda kita bisa belah, dan Amerika kita bisa strika. Tidak percaya! Mari bersatu untuk membuktikannya.

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.