Antara incumbent dan new comer

Antara incumbent dan new comer

Oleh: Memed Chumaedi (Dosen dan Peneliti Politik)

Ramainya pemilihan kepala daerah (pilkada) secara langsung di beberapa kab/kota atau provinsi untuk yang beberapa kali di beberapa daerah yakni dimenangkan oleh incumbent. Beberapa bulan terakhir dari beberapa pilkada di indonesia banyak keterlibatan patahana yang menuai sukses juga. Keluarga incumbent (anak, mantu, istri, sepupu dll) yang disokong kekuatan politik patahana menjadi kekuatan politik maksimal. Kasus kediri yang dimenangkan istri incumbent, kota cilegon yang dimenangkan oleh TB. Iman aryadi (anak walikota), airin rachmi diani (adik ipar atut chosiyah) sang gubernur patahana, secara teori dibenarkan dengan kekuatan patahana determinan terhadap kemenangan politik

Fenomena kemenangan pilkada yang diraih oleh incumbent ini sudah barang tentu menarik untuk dikaji, karena tidak lama lagi akan segera disusul pilkada di kab. Tangerang dan kota tangerang yang sama-sama insya Allah di ikuti oleh incumbent.

Tulisan seputar pilkada ataupun kecendrungan incumbent Telah banyak dimuat berbagai media, dan tulisan ini akan kian menambah deretan panjang tentang aneka pilkada, yang setidaknya dapat menyegarkan (dan semoga justru tidak mengendorkan) semangat para kandidat “ujug-ujug nongol“, manakala incumbent ikut maju dalam pertarungan bergengsi ini.

Merebut Popularitas

Penerawangan dari beberapa analis ataupun lembaga survey menjatuhkan opini bahwa popularitas determinan terhadap pilihan. Prinsipnya popularitas tidak hanya dianggap posisinya positif tapi popularitas juga memiliki kecendrungan negatif. Siapapun boleh bangga pada popularitasnya tapi jangan terlalu bangga, dalam ranah politik manapun (pilkada langsung) popularitas tidak hanya mengandalkan siapa”aku” tapi bagaimana program yang menjadi faktor populisnya dan kemudian rakyat menentukan pilihan kepada kandidat yang electable.

Sesungguhnya untuk mencapai popularitas adalah perjuangan yang teramat berat dalam tahapan memperkenalkan diri dari tokoh yang semula tidak populer kemudian menjadi populer, atau paling tidak dikenal oleh masyarakat. Stiker atau spanduk dirasakan tidak cukup efektif sebagai media perkenalan para calon. Mereka baru merasa mantap bila saling bertemu langsung, bertatap muka, di sambangi oleh orang dan kegiatan yang bersifat sosialisasi.

Tidak seperti “new comer” (pendatang baru) akan melakukan “ekspansi politik” dengan menjelajah dari pelosok ke pelosok yang dengan tentu seabrek amunisi dikeluarkan hanya untuk mensosisalisasikan dirinya. Dan hal ini sudah barang tentu menjadi hal yang lumrah jika kemudian posisi new comer ini datang tidak dengan tangan “tangan kosong”. Ini dilakukan, karena popularitas pasangan calon dalam pandangan massa sangat menentukan perolehan suara yang akan diraihnya.

Tidak seperti incumbent yang telah memimpin selama lima tahun – sehingga sudah sangat populer di mata masyarakat daerahnya – “pendatang baru” bisa dikatakan telah ketinggalan start selama lima tahun dalam hal popularitas. Padahal, jangan harap akan dipilih oleh satu orang pun, jika calon tidak dikenal dan tidak melakukan konsolidasi dan sosialisasi ke berbagai wilayah..

Mahalnya Harga (gaul) untuk sebuah perkenalan dengan masyarakat bisa bermacam-macam. Masyarakat atas nama RT, RW, desa, majelis taklim atau organisasi pemuda atau entah apa saja, tidak jarang memanfaatkan kesempatan pilkada sebagai momentum untuk mendapatkan dana bantuan yang mudah atas nama organisasi yang dibawanya, dengan imbalan akan menyalurkan sejumlah suara untuk “sang donatur” yang memiliki kepentingan di pilkada.

Tidak mengherankan, jika sang “pendatang baru” belum-belum sudah menerima puluhan malah hingga ratusan proposal. dengan beragam permintaan. Baik yang bersifat umum, seperti perbaikan atau renovasi mushala, masjid, gereja, penerangan jalan, bantuan peralatan olahraga, bantuan rompi atau uniform organisasi, bantuan helm bagi tukang ojek, pembangunan jembatan, PHBI, pembangunan lapangan olahraga, bantuan semen. hingga permintaan khusus untuk mendapatkan pekerjaan.

Tidak ketinggalan berbagai lembaga/organisasi juga turut andil mengajukan dana untuk pertemuan-pertemuan organisasinya lengkap dengan rincian uang transport yang dibutuhkan. Bahkan meminta dipentaskan panggung hiburan, dangdut, wayang kulit, dan lain-lain. Oleh karena itu, bilangan tiga miliar rupiah mungkin terlalu sedikit untuk memenuhi kebutuhan proposal proyek yang diajukan masyarakat sekabupaten/kota.

Apabila “pendatang baru” secara maksimal dapat memenuhi seluruh proposal dengan miliaran rupiah digelontorkan sebagai upaya pendekatan ke warga, apakah dijamin bisa menyamai popularitas incumbent? Jawabnya: belum tentu. Hanya saja, masyarakat sebagai pemilik suara punya posisi tawar lebih tinggi bagi “pendatang baru”.

Bahkan opini yang berkembang di masyarakat: “jika ‘pendatang baru’ enggan memberikan konstribusi kepada kami, maka kami akan pilih pejabat lama”. Kondisi ini menjadikan “pendatang baru” pada posisi yang lemah, kendatipun jika dilayani seluruh keinginannya, tidak ada garansi akan menang di daerah tersebut. Kendati begitu, perburuan ke masyarakat untuk mencari popularitas melalui pendekatan turun ke bawah dan naik ke gunung sekalipun harus dilakukannya. .

Posisi Incumbent

Incumbent tidak perlu mengagendakan acara sosialisasi atau perkenalan. Incumbent telah memiliki, bahkan mungkin membangun jaringan ke seluruh pelosok desa/kelurahan. Apalagi saat memimpin sudah memiliki niatan untuk mencalonkan diri kembali. Investasi “simpati” senantiasa dicurahkan pada setiap momen yang ada.

Kunjungan-kunjungan kedinasan secara tidak langsung dapat menjadi “fasilitas gratis” untuk menanam simpati dan menarik simpati massa. Kucuran bantuan yang nota bene dari pemerintah, secara psikologis dapat kian merekatkan hubungan emosional.

Sentuhan-sentuhan kemanusiaan yang dilakukan saat menghadiri acara pernikahan, silaturahmi dan lelayu dapat melahirkan kesetiaan alami dan kian menambah popularitas sang pejabat. Alhasil, kegiatan keagamaan semacam pengajian Isra Mikraj, Maulud Nabi, yang tersebar di banyak lokasi, mulai dari RT/RW sampai desa/kelurahan se kabupaten/kota yang dihadiri ribuan masa dengan mendatangkan mubalig kondang, bisa disisipi propaganda yang sangat ampuh untuk mendongkrak ketenaran incumbent.

Terhadap berbagai gerakan yang dilakukan para penantangnya dalam menanamkan simpati ke massa, incumbent sudah barang tentu dengan mudahnya dapat “menghapus” citra simpati para “pendatang baru”. Jaringan sampai pelosok desa yang sudah dimilikinya, merupakan informan-informan handal yang dapat dengan lincah mengakses semua gerakan yang dilakukan para penantangnya.

Oleh karenanya besar kemungkinan akan terjadi jika pada satu saat “new comer” memberikan bantuan entah dalam bentuk apa saja ke suatu tempat tertentu, di saat yang lain incumbent akan memberikan bantuan dua atau tiga kali lipatnya. Maka tetap yang mendapatkan simpati di mata voters adalah yang nyumbang berkali-kali.

Ala kulli hal, persoalan incumbent dan new comer tidak berhenti pada titik kualitas atas popularitas masing-masing, tapi keduanya akan bertarung jika kemungkinan program yang ditawarkan lebih berkualitas ketimbang popularitasnya. Mudah-mudahan keduanya menjadi kekuatan sengit untuk sama-sama menguji dan mencari sejujurnya demokrasi.

Wallahu a’lam bisshowab.

Selamat kepada Bang Ruslan yang kreatif mendirikan kawasan Industri Politik dibawah lisensi SIPIL INSTITUT.

 

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.