BELAJAR DARI PUTRI DIANA & BUNDA TERESA

Oleh : Ruslan Ismail Mage, Motifator Politik Sipil Institut

Pasca reformasi, pergerakan politik di Indonesia berlangsung sangat dinamis dengan dibukanya semua ruang bagi setiap warga negara melakukan partisipasi politik, tidak terkecuali kaum perempuan. Perempuan yang selama ini terpinggirkan di arena politik, sertamerta menemukan celah untuk berkiprah di pentas politik. gagasan menambah kouta perempuan dari 12% hasil pemilu 1997 bertambah menjadi 30% pada 2004, menunjukkan semakin terbukanya ruang tersebut. Perjalanan waktu kemudian menunjukkan bahwa celah yang ada tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh kaum perempuan untuk terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan di republik ini.

Dari realitas seperti itu, maka solusi yang ditawarkan oleh sistem demokrasi untuk melahirkan pemimpin yang mengakomodasi kelompok perempuan, terbukti kemudian tidak mampu menjawab kegalauan aktivis perempuan untuk bisa masuk dalam lingkaran pengambilan kebijakan. Karena itu, perlu ada resolusi gerakan politik perempuan dalam memasuki industri politik Indonesia pada tahun 2014. Resolusi yang dimaksud adalah mencari solusi lain bagaimana strategi investasi politik yang cerdas bagi perempuan untuk bisa ikut bertarung dengan politisi lelaki dan memenangkan pemilu legislatif 2014. Hal ini menjadi penting, karena menurut John C. Maxwell dalam bukung Laws of Leadership “Menjadi seorang pemimpin sangat mirip dengan berinvestasi dengan suskses dalam pasar saham”. Mengharapkan kaya dalam sehari sangat mustahil, sama mustahilnya mengharapkan menjadi politisi yang berpengaruh dalam semalam.

Menurut Colin Powell “kesempurnaan seorang pemimpin adalah ketika orang mengikuti kemana-mana walaupun hanya sekedar ingin tahu”. Begitu pula politik adalah mencari pengaruh, tidak lebih dan tidak kurang. Jadi untuk maju ke gelangang politik dan memenangkan pemilu 2014, kata kuncinya hanya satu “harus mempunyai pengaruh besar dalam masyarakat”. Dalam konteks pemilu, mustahil mendapatkan pengaruh besar dalam setahun, apalagi dalam tiga bulan menjelang pemilu. Rahasia sukses politisi dan pemimpin besar adalah apa yang diperbuat hari demi hari dalam jangka panjang. Rahasia sukses seorang petinju bukan dalam ring tinju ketika memukul KO lawannya, tetapi terletak pada proses latihan yang berkepanjangan sebelum bertanding.

Lalu bagaimana politisi perempuan mendapatkan pengaruh? Berikut ini adalah sebuah kisah fakta untuk menjawabnya. Di akhir musim panas tahun 1977, orang dikagetkan oleh dua peristiwa yang terjadi dalam waktu terpisah kurang dari semingu, yaitu meninggalnya Putri Diana dan Bunda Teresa. Dipermukaannya kedua wanita ini sangat berbeda. Yang satu adalah putri yang jangkung, muda, serta glamour, dari Inggris, yang bergaul di kalangan atas. Yang satunya seorang penerima Hadiah Nobel Perdamaian, adalah seorang biarawati Katolik mungil yang sudah tua, yang lahir di Albania, yang melayani warga termiskin di Calkuta, India.

Yang luar biasa adalah dampak keduanya sangat mirip. Dalam jajak pendapat tahun 1996 yang diterbitkan oleh harian Daily Mail di London, Putri Diana dan Bunda Teresa diangap sebagai dua wanita paling peduli dan berpengaruh di dunia. Walaupun keduanya berasal, tumbuh, dan tinggal di lingkungan yang berbeda, tetapi keduanya mempunyai visi dan misi yang sama dalam memaknai hidup. Keduanya di nobatkan sebagai perempuan paling peduli dan berpengaruh di dunia ketika keduanya menentukan sasaran hidupnya menjadi pelayan kemanusiaan. Bunda Teresa lebih memilih mengabdikan hidupnya dengan melayani orang-orang termiskin di Calkuta, sedangkan Putri Diana menentukan sasaran hidupnya melayani orang lain dengan mengumpulkan dana amal untuk pemberantasan penyakit yang banyak menyerang komunitas orang miskin di dunia. Diana mulai mengusik hati orang untuk beramal demi riset terhadap AIDS, pemeliharaan orang yang terkena lepra dan larangan menggunakan ranjau darat  dalam peperangan

Pengaruh Putri Diana yang begitu besar, bukan ketika menjadi Putri Kerajaan yang bergelar bangsawan mendampingi suaminya Pangeran Charles pewaris tahtah kerajaan Inggris, tetapi ketika dia vokus menjadi pelayan kemanusiaan. Pada tahun 1996 ketika diceraikan oleh Pangeran Charles, seketika ia kehilangan gelar kebangsawanannya, tetapi justru pengaruhnya semakin meningkat sementara pengaruh mantan suami serta para saudara iparnya yang hidup di lingkungan istana justru menurun. Ironisnya, bahkan setelah meninggalpun Diana terus mempengaruhi orang lain. Ketika pemakamannya disiarkan langsung di televisi, acaranya diterjemahkan ke dalam empat puluh bahasa di dunia. NBC memperkirakan bahwa jumlah total penontonnya mencapai 2,5 milyar jiwa, lebih dari dua kali lipat dari orang yang menonton upacara pernikahannya.

Dari pengalaman hidup dua wanita berpengaruh dia atas, maka ada beberapa pelajaran yang perlu dimaknai politisi perempuan Indonesia. Pertama, politisi perempuan yang berminat maju dalam pemilu legislatif 2014 jangan pernah menunda waktu untuk melakukan Investasi Politik dari sekarang. Menunda waktu investasi politik berarti semakin menutup peluang bersaing dengan politisi lelaki. Segera maksimalkan waktu yang tersisa untuk mendapatkan pegaruh di tengah masyarakatnya. Kedua, untuk mendapatkan pengaruh dari masyarakat, kata kuncinya hanya satu tidak lebih dan tidak kurang, yaitu segera menjadi pelayan kemanusiaan. Karena dengan ihlas melayani manusia, maka itu berarti sudah menabung suara di bank-bank hati masyarakat. Lakukan kedua hal ini, dan bersiaplah untuk menjadi pemenang dalam pemilu legisatif 2014.

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.