DAHSYATNYA KOMUNIKASI NON-VERBAL DALAM POLITIK

(Catatan Untuk Politisi Perempuan)

Siapa menabur benih unggul di lahan subur niscaya memanen hasil gemilang, kecuali mengabaikan gulma dan hama. Yang lainnya, hanya menuai debu! Pasca reformasi hampir semua politisi lelaki menggunakan kata demokrasi sebagai alat jajah politik paling seksi terhadap perempuan. Sekedar lipstik pamanis mulut, politisi lelaki berargumen di atas panggung politik, bahwa atas nama demokrasi telah memberi ruang kuota 30% untuk perempuan bisa masuk menjadi anggota legislatif. Faktanya perempuan hanya dijadikan subordinasi yang terstruktur dengan alasan bersembunyi dibalik kualitas yang standarnya tidak jelas dan hanya berdasarkan asumsi bersifat patriarkhi.

            Salah satu indikator keberhasilan suatu demokrasi adalah keterwakilan perempuan dalam pengambil kebijakan. Itu berarti ‘demokrasi tanpa perempuan adalah bukan demokrasi’. Dengan adanya dukungan ideologi demokrasi seperti ini, maka sejatinya perempuan harus memanfaatkan ruang yang sudah tersedia dengan terus menggali potensi diri untuk menveto posisi yang selalu disubordinasikan oleh politisi lelaki dalam sistim politik Indonedsia. Inilah kemudian yang menarik didskusikan lebih dalam bagaimana politisi perempuan menjadi pelangi dalam langit politik Indonesia yang selama ini tertutup awan gelap.

            Suvei terakhir di kalangan ahli psikologi mengatakan bahwa 70 % masa depan seseorang sangat ditentukan oleh komunikasi. Sinergis dengan itu di kalangan konsultan perilaku juga menjelaskan hasil survei yang mengatakan 70 % warna masa depan seseorang ditentukan oleh etika perilaku. Kalau hasil kedua survei tersebut dipakai untuk membedah potensi pasar demokrasi Indonesia 2014, maka bisa dikatakan bahwa indikator keterpilihan seorang politisi pada pemilu legislatif 2014 dapat dilihat sejauh mana bentuk komunikasi dan etika perilakunya dalam masyarakat. Berangkat dari dua indikator keterpilihan itulah, maka politisi perempuan harus memahami dahsyatnya pengaruh komunikasi non-verbal dalam politik.

Pengaruh Komunikasi Nonverbal dalam politik

            Bentuk komunikasi yang paling mendasar dan sangat menentukan dalam mempengaruhi orang lain, adalah komunikasi non-verbal. Menurut antropolog, sebelum manusia menggunakan kata-kata, mereka telah menggunakan gerakan-gerakan tubuh, bahasa tubuh (body language) sebagai alat untuk berkomunikasi dengan orang lain. Dalam konteks komunikasi politik, berikut ini adalah beberapa contoh perilaku yang menunjukkan komunikasi non-verbal dan sangat berpengaruh dalam meraih simpati orang lain.

  1. Semua atribut yang melekat pada diri seseorang menjadi alat komunikasi kepada orang lain. Seorang perempuan yang berkunjung ke kampung memenuhi undangan pernikahan memakai baju yang seksi, secara tidak langsung telah memproklamirkan diri sebagai perempuan yang kurang mematuhi etika.
  2. Berkunjung ke pasar tradisional dengan memakai semua perhiasan akan memberi pesan kepada orang disekitar sebagai orang yang haus pujian dan selalu menganggap diri lebih hebat dibanding orang lain.
  3. Menutup pintu rumah ditengah kerumunan orang yang sedang bergotong royong membersihkan got dari ancaman nyamuk demam berdarah, menyampaikan pesan sebagai orang yang miskin jiwa sosial.
  4. Bertolak pinggang sambil menunjuk-nunjuk menyuruh orang di tengah komunitas yang sedang berkeringat membangun masjid, akan dipersepsi sebagai orang yang kurang bijaksana.
  5. Mengendarai mobil sambil kaca tertutup memasuki kompleks perumahannya, bisa ditafsirkan sebagai tetangga yang sombong dan tidak mau peduli nasib orang lain yang ketimpa musiba.
  6. Malas tersenyum kepada orang-orang disekitarnya, baik di kantor, diperjalanan, atau di lingkungan sosialnya, akan mendapat pembenaran sebagai orang yang sombong dan angkuh.

Semua contoh di atas adalah komunikasi non-verbal yang sangat menentukan apakah seseorang yang ingin maju dan terpilih dalam pemilu legislatif 2014. Dalam konteks pasar demokrasi, komunikasi non-verbal memiliki pengaruh yang lebih besar daripada komunikasi verbal. Hal ini disebabkan, karena secara psikologis orang cenderung lebih mempercayai visualnya (apa yang dilihatnya). Orang akan mudah berbohong dan menipu orang lain dengan menggunakan kata-kata bahasa verbal daripada menggunakan nonverbal (bahasa isyarat). Orang cenderung apriori kepada seorang politisi yang menggunakan mobil BMW mengajak rakyat hidup sederhana.

Menurut para ahli komunikasi dunia, Obama seorang politisi kulit hitam mampu menghipnotis hampir seluruh penduduk Amerika Serikat yang berkulit putih, karena kecerdasannya menggunakan bahasa non-verbal jauh sebelum masuk ke wilayah politik. Kerakter alaminya yang selalu diapresiasi lingkungan sosialnya adalah sikapnya yang murah senyum dan selalu menghormati orang lain tanpa melihat status orang lain. Tidak pernah menunda untuk menyapa orang lain, walau cuma sekedar menanyakan kabar dan kesehatan. Tidak pernah jenuh melambaikan tangan kepada orang lain yang mengisyaratkan adanya perhatian dalam pergaulan.

Obama tidak beragama Islam, tapi tanpa disadari ia sudah menerapkan konsep islami disetiap langkahnya menuju gedung putih. Obama mempraktekan konsep yang sangat familiar ditelinga semua orang Islam, yaitu konsep “Hablulminannas dan Silaturhami”. Sejak menentukan sikap menjadi politisi, Obama tidak pernah jenuh tersenyum dan menyapa mencari sahabat-sahabat baru. Komunikasi politik yang dipakai adalah gabungan komunikasi verbal dan nonverbal untuk menyentuh hati setiap orang yang melihat dan mendengarkannya. Jadi kepada politisi perempuan dalam menuju 2014, pelihara komunikasi non-verbalnya, jangan menunda untuk investasi senyum dan melambaikan tangan kepada sahabat-sahabat baru, lalu perhatikan apa yang akan terjadi pada dirinya dalam pasar demokrasi Indonesia 2014.

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.