Demokrat Harus Gerak Cepat Agar Tak Habis Dimakan Rayap

Jakarta - Politikus Partai Demokrat, Benny K Harman, menyebut ada ‘rayap’ dan ‘parasit’ di tubuh Partai Demokrat. Nah, agar partai berlambang bintang mercy ini tidak habis dimakan ‘rayap’, maka harus bergerak cepat menyelesaikan masalah internalnya.

“Agar tidak dimakan rayap maka harus ada pembenahan internal dari dalam dengan segera. Harus bergerak cepat untuk perbaiki citra partai, dan bersihkan unsur yang terkena kasus hukum. Selain itu ada hal lain di mana citra SBY dan pemerintah juga berimbas ke Demokrat,” kata peneliti The Indonesian Institute, Hanta Yuda.

Berikut ini wawancara detikcom dengan alumnus UGM ini, Selasa (31/1/2012):

Untuk kesekian kalinya isu pergantian ketua umum di tubuh Partai Demokrat terjadi. Menurut Anda, mengapa isu ini kerap muncul?

Sebenarnya di luar problem persoalan hukum kasus Nazaruddin yang menyebut nama Anas Urbaningrum, ini tidak terlepas dari potret pertarungan internal di tubuh Partai Demokrat. Yang kita tangkap dari luar merupakan cuplikan perang dingin di Partai Demokrat, ada perang antar faksi. Hanya saja pertarungan faksi tidak langsung berhadapan secara faksi per faksi.

Kalau di Golkar karakter faksi itu mandiri dan relatif independen. Kita bisa sebut di Golkar ada faksi Aburizal Bakrie, faksi Akbar Tandjung dan dulu ada faksi Surya Paloh.

Kalau di Demokrat, faksinya tidak independen dan tidak mandiri. Bisa kita sebut semi faksi. Ini tak lepas dari pertarungan kursi ketum di Kongres 2010 lalu di Bandung ketika ada 3 kandidat yakni Andi Mallarangeng, Marzuki Alie dan Anas Urbaningrum. Andi seperti disebut-sebut adalah representasi kepentingan SBY.

Ketiga faksi itu tidak berdiri sendiri, tetapi butuh cantelan yang patronnya sama yaitu SBY. Anas tetap menjadikan SBY penting. Di satu sisi SBY memegang peran sentral memegang peran strategis. Sedangkan di sisi lain sebenarnya SBY juga merupakan faksi tersendiri.�
Gambaran pertarungan internal di Demokrat kalau disederhanakan sebenarnya begini, ada pertarungan SBY menggunakan tangan lain dan Anas, terlepas dari kasus hukumnya. Sekarang ini, faksi-faksi ini saling tekan dan adu kuat di internal. Anas menggunakan strategi bertahan, SBY bermain cantik dan Marzuki yang strateginya maju mundur. Maju kalau ada peluang.

Untung rugi kalau Anas diganti bagi Demokrat?

Ada aturan di PD, kader Demokrat baru akan diproses kalau sudah jadi tersangka. Kalau Anas sudah ditetapkan tersangka oleh KPK, Demokrat tentu lega karena masalah pertarungan faksi ini selesai, sehingga mereka bisa melakukan recovery.

Kalau memang Anas tidak menjadi tersangka, masalah faksi ini bisa terus menggantung dan berbahaya. Saya kira Anas, dalam konteks perbaikan partai, harus fokus pada kasusnya. Agar fokus pada kasusnya, sebaiknya Anas dinonaktifkan sementara. Selain itu PD juga tidak akan tersandera dengan bos besar dan ketua besar.

Dengan ini juga parpol lain tidak akan menggembosi PD. Kalau Anas tetap dipertahankan dalam kondisi seperti ini, kerugiannya tentu ini akan dimanfaatkan sebagai amunisi oleh partai lain.

Nantinya kalau Anas memang tidak terbukti, maka dia bisa kembali lagi. Sinyal yang ada menginginkan Anas diganti, tapi SBY terlihat sangat berhati-hati menyikapi kasus ini dan seolah hendak menampilkan citra seorang Demokrat sejati. Anas juga memanfaatkan karakter SBY ini. Barangkali Anas tenang-tenang saja karena punya kartu truf. Kita nantikan saja.

Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat menyebut telah ada tiga sampai empat orang yang disiapkan sebagai pengganti Anas. Bahkan Dewan Pembina pun sudah serius ingin mengganti Anas?

Ini semakin terang. Dalam pertemuan Dewan Pembina, informasi yang saya dapat, hanya satu yang mempertahankan Anas di kursi Ketum, 1 orang netral, dan yang lain ingin diganti. Pergantian ketum itu menjadi pembicaraan di rapat Dewan Pembina, namun yang keluar ke media kan tidak seperti itu.

Sekarang yang terjadi perang opini. Dan SBY sangat berhati-hati sekali, ibarat menarik benang dari dalam tepung agar tidak banyak yang tumpah.

Di tengah kondisi seperti ini sudah sangat tepat digelar rapat konsolidasi, termasuk membahas adanya parasit dan rayap di partai ini?

Di internal karena keberadaan faksi-faksi ini jadi satu sama lain ingin menggembosi. Dari eksternal juga menggembosi. Ini harus dilihat sejauh mana kedewasaan Partai Demokrat mengelola faksionalisme di internalnya.

Demokrat itu partai baru yang mengalami gigantisme. Secara usia masih pendek, tapi di Pemilu 2009 punya 20,8 persen suara, itu cepat sekali. Kecepatan ini tidak diimbangi kaderisasi dan kelembagaan faksi yang siap.

Perpecahan ini akan seberapa besar dampaknya bagi Demokrat di Pemilu 2014?

Ada yang mengatakan Demokrat akan tamat, dan seterusnya. Adanya badai dan sebagainya itu berpotensi menggerus suara di 2014. Tapi itu belum pasti menjadikan partai ini jadi menengah dan kecil.

Kalau Demokrat bisa melewati ujian ini, bisa memperbaiki citra dengan membersihkan dari tertinggi hingga terbawah agar kembali pada persepsi publik sebagai partai yang bersih. Selain itu kinerja pemerintahan juga harus dipersepsikan baik yang ditunjukkan dengan keberhasilan menumpas kasus korupsi. Kalau ini bisa dilakukan maka Demokrat bisa bertahan. Kalau tidak bisa, berpotensi besar jadi tergerus.

Ini menjadi PR berat bagi Demokrat menjelang 2014?

Ancamannya memang menurunnya suara Demokrat di 2014. Masih ada 2 tahun sekian untuk recovery dengan menyelesaikan problem internal. Perbaikan kaderisasi harus diikuti dengan membersihkan yang tersangkut dugaan korupsi dan sebagainya.

Selama dua tahun ini harus bekerja keras untuk menunjukkan partai ini merupakan partai yang paling bersih. Kalau tidak bisa, maka lampu kuning bagi Demokrat. Apalagi di pemilu mendatang tidak bisa jual figur SBY lagi.

Yang paling mendapat untung atas kisruh internal Demokrat ini siapa?

Ini merupakan potret buram korupsi politik. Skandal semacam ini bukan eksklusif milik Demokrat. Terkait ini hampir tidak menyisakan satu partai pun, hampir tidak ada parpol yang tidak terserempet kasus korupsi politik di DPR. Ada Century, hibah KRL, dana Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah (PPID), cek pelawat, dan sebagainya.

Lalu apakah luberan suara Demokrat akan bergeser ke partai lain? Ada beberapa kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, orang bermigrasi ke partai lain karena kasus tadi, tapi belum tentu otomatis geser ke Golkar yang ada di bawah Demokrat. Bisa jadi bahkan tidak memilih karena berpikir semua partai sama saja.

Kedua, boleh jadi kasus ini ada kemungkinan ditutupi dengan strategi politik elektoral di 2014, misalnya ada bantuan langsung tunai (BLT) jilid 2 dan sebagainya.

Atau kita bisa lihat apa yang terjadi pada 2004. Sebelumnya publik kecewa pada pemerintahan Megawati. Lalu di Pemilu 2004 Golkar menang bukan karena hebat, tapi karena lawannya turun. Sekarang juga bisa terjadi begitu. SBY diidentikkan dengan Demokrat. Ketika publik kecewa pada pemerintahan SBY, suara Demokrat bisa meluber ke Golkar atau PDIP, tapi ini tidak linier.

Ada berbagai kemungkinan, yakni bisa memutuskan pindah ke tempat lain, tidak pindah karena beralasan apa yang dialami Demokrat juga bisa dialami partai lainnya, atau seperti hukum pasar maka pembeli bisa saja tidak membeli barang. Ada 3 kemungkinan itu. Kalau berdasarkan beberapa survei, suaranya (Demokrat) turun, dan itu harus dibaca sebagai potensi.

Kalau menjadikan Demokrat jadi partai kecil, ini pernyataan yang telalu cepat. Tapi memang berpotensi jadi partai kecil kalau memang dibiarkan dimakan rayap.

Agar tidak dimakan rayap maka harus ada pembenahan internal dari dalam dengan segera. Harus bergerak cepat untuk perbaiki citra partai, dan bersihkan unsur yang terkena kasus hukum. Selain itu ada hal lain di mana citra SBY dan pemerintah juga berimbas ke Demokrat.

Anas sebagai ketum punya peran besar di Demokrat. Dan SBY juga menentukan masa depan Demokrat. Keberhasilan SBY akan memberikan efek positif bagi Demokrat. Demikian pula kalau SBY gagal.

(vit/nrl)/detik.com/Nurvita Indarini Selasa, 31/01/2012)

 

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.