Hugo Chavez 2014

Ruslan Ismail Mage – (Direktur Eksekutif Sipil Institut Jakarta)

Satu tahun terakhir ini partai politik perserta Pemilu sudah mulai mencari dan  mengelus jagonya untuk menjadi calon presiden pada Pemilu 2014. Empat partai politik yaitu Golkar, PDIP, Gerindra, dan Hanura hampir bisa dipastikan sudah mempunyai calon presiden. Sementara diluar empat partai itu masih belum jelas siapa calon presidennya, apa dari internal partai atau membuka peluang kepada orang diluar partai yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

            Beberapa nama dimunculkan di ruang publik dari kalangan internal partai politik tidak terlalu diapresiasi lagi publik karena dianggap tokoh kadaluarsa yang mengalami cacat mental orientasi kerakyatannya. Hanya melamar mesra rakyat ketika musim kampanye, dan menceraikan rakyat kembali setelah bertahta di Istana Negara. Sementara itu rakyat tidak memiliki alternatif pilihan lain di luar partai politik, karena UU Pilpres 2014 menutup pintu calon independen memimpin negeri ini. Akibatnya bangsa besar ini mengalami defisit kepemimpinan sangat memprihatinkan.

konsultan politik

            Keprihatinan itu disuarakan oleh Buya Syafii Maarif yang mengatakan kalau agama Islam membolehkan putus asa maka saya sudah putus asa melihat perilaku pemimpin! Kalau ada orang tidak prihatin melihat 290 pemimpin daerah (Gubernur, Walikota, Bupati) dan 2.553 anggota DPR terjerat korupsi, orang itu sudah mengalami gangguan jiwa berat. Kalau ada orang tidak prihatin melihat lemahnya kepemimpinan yang membiarkan negeri kaya ini kehilangan kedaulatan ekonominya, orang itu sudah tidak normal. Betapa tidak! Kepemimpinan lemah, tidak berwibawa dan korup telah mengantar negeri subur ini semakin terkanalisasi menuju negara gagal. Haruskah rakyat berpasrah?

Disamping agama tidak membolehkan putus asa, teori politik harapan juga bisa menjadi pemicu untuk bangkit dan bergerak maju mencari pemimpin tangguh dan amanah. Teori politik harapan mengajarkan “Sebesar apa pun krisis multidimensi suatu bangsa akan melahirkan tragedi kemanusiaan, jangan pernah kehilangan harapan, karena harapan itu adalah identitas kemanusiaan”. Teori politik harapan ini mencoba manyadarkan kita sebagai warga bangsa bahwa setiap jaman akan menemukan pemimpinnya.

Lalu prototipe pemimpin bagaimana yang dibutuhkan Indonesia dalam konteks kekinian? Hasil survei lembaga Pusat Data Bersatu (PDB) pimpinan ekonom Didik J Rachbini menyampaikan kesimpulan bahwa rakyat menginginkan presiden mendatang jujur dan melayani rakyat. Publik tidak mempersoalkan latar belakang pemimpin itu sipil, militer, atau etnis tertentu.

Dua kerakter kepemimpinan harapan rakyat seperti jujur dan melayani adalah kriteria umum semua jenis kepemimpinan. Sekarang saatnya mencari pemimpin Indonesia dengan menggunakan kriteria khusus sesuai kondisi sosiologis dan geopolitik Indonesia yang selama ini diabaikan oleh kaum terdidik negeri ini.

Berdasarkan ilmu geopolitik, bangsa paling potensial pecah di dunia adalah Indonesia. Ada dua alasan pembenar untuk itu. Pertama, Indonesia terdiri dari ribuan pulau dan suku bangsa (multikulturalisme) tersebar diseluruh nusantara. Uni Soviet dan Yugoslavia saja satu daratan bisa terpecah-pecah menjadi lebih sepuluh negara, apalagi negara kepulauan Indonesia. Kedua, Indonesia termasuk negara paling di incer beberapa kepentingan dan kekuatan asing (kapitalisme) karena memiliki kekayaan alam melimpah. Indonesia laksanan gadis perawan cantik dikelilingi pemuda-pemuda berlibido rakus. Sadar atau tidak sadar, negeri ini sudah dibagi-bagi oleh kekuatan asing.

Dari uraian singkat pendekatan ilmu geopolitik ini, jelas negeri kaya migas berlebel rentan gagal ini membutuhkan pemimpin tangguh dan amanah pada Pemilu 2014. Sejarah kepemimpinan negeri ini di era demokrasi liberal jilid pertama (1950-1955) memiliki pemimpin tangguh Soekarno yang berani menyetrika Amerika, membelah Belanda, dan melinggis Inggris. Tidak gentar mengiliminasi demokrasi liberal dalam kamus sistem politik Indonesia dengan mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 untuk kembali ke demokrasi terpimpin.

Dalam konteks kekinian di era demokrasi liberal jilid dua ini (1998-sekarang) Indonesia membutuhkan pemimpin berkerakter seperti Hugo Chavez Presiden Venezuela. Pemimpin tangguh memproteksi negaranya dari serbuang kekutan asing (kapitalisme) yang ingin menguasai kekayaan alam melimpah negerinya. Tidak gentar menasionalisasikan beberapa perusahaan asing di sektor perbankan, semen, dan migas. Orientasi kerakyatannya tidak tergoyahkan sampai akhir hayatnya dengan memanjakan rakyatnya dari hasil kekayaan alam minyak untuk kebutuhan sandang, pangan dan papan. Selama 14 tahun memimpin Venezuela, Chavez berhasil mengentaskan orang miskin di atas 75 persen dan membebaskan mereka dari buta huruf.

Hugo Chavez adalah contoh presiden yang memahami potensi bangsanya dan menggunakan potensi itu untuk membangun dan mempertahankan bangsanya. Sebagai nagara pemilik cadangan minyak mentah terbesar di dunia, Chavez menggunakan minyak sebagai senjata diplomasinya untuk mengerem nafsu kelompok kapitalisme dimotori Amerika Serikat menguasai dunia. Faktanya selama kepemimpinannya liberalisme keok tak berdaya melawan paham sosialisme dan revolusi Bolivariannya di kawasan Amerika Latin.

Jelang Pemilu 2014 mungkin kita sepakat merindukan munculnya calon presiden tangguh, berani, dan berwibawa seperti Hugo Chavez untuk menyelamatkan Indonesia dari kehancuran. Tidak gentar menasionalisasikan perusahaan perbankan, semen, dan migas. Tegas kembali membumikan pancasila kesetiap ruang kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak ragu merekontruksi ulang demokrasi liberal dengan menerapkan demokrasi pancasila di negeri ini. Karena hanya demokrasi pancasila yang bisa mendistribusikan keadilan dan mengalokasikan seluruh kekayaan alam yang merata kepada seluruh warga bangsa. Rakyat sudah lelah menjadi pengemis di negeri sendiri, dan merindukan Hugo Chavez muncul pada pemilu presiden 2014. Lain tidak!

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.