Incumbent dan Uang Bukan Jaminan

Incumbent dan Uang Bukan Jaminan

(Kasus Pilkada di Sumatra Barat)

Oleh: Firdaus (Mantan Pimpred Padang Ekspres)

 

Di dalam pasar demokrasi semua transaksi diwarnai ketidakpastian, semua serba kemungkinan. Karena semua serba kemungkinan, setiap orang berpeluang menjadi pemenang dalam pilkada. Walau modal Asumsi pejabat yang sedang menjabat (incumbent) dan kandidat berduit akan memenangkan Pilkada, terbantahkan. Setidaknya terbantahkan di Sumatra Barat (Sumbar). Kalau pun ada, hanya pejabat yang benar-benar dirasakan sangat dekat dengan rakyatnya.

Dari realita yang ada, hanya Kota Sawahlunto, Kota Padangpanjang, Kota Bukittinggi, Kota Padang, Kabupaten Mentawai, Kota Payakumbuh, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Padangpariaman dan Kabupaten Pesisir Selatan yang dimenangkan pejabat yang sedang menjabat yang memenangkan pertarungan. Di Kabupaten Tanahdatar, Kabupaten Limapuluh Kota, Kota Pariaman, Kabupaten Pasaman Barat, Kabupaten Pasaman, Kabupaten Solok, dan Provinsi Sumatra Barat, justru dimenangkan “orang baru” stok lama.

Tanpa membahas kemenangan incumbent, tak salah kalau kita coba melihat titik dasar kemenangan pendatang baru di arena Pilkada di Sumbar. Pada kesempatan ini akan dilihat dari sisi “investasi” yang sudah ditanamkan pemenang. Ternyata “investasi” yang ditanamkan tersebut sudah dilakukan sejak lama. Bertahun-tahun. Malahan ada yang belasan dan puluhan tahun.

Kemenangan pasangan M. Shadiq Pasadique – Aulizul Syuib mengalahkan incumbent Masriadi Martunus di Kabupaten Tanahdatar, bukanlah pekerjaan yang mudah. Setelah kekalahan Shadiq Pasadique dari Masriadi Martunus pada pemilihan bupati, lima tahun sebelumnya, di “tangan” DPRD Tanahdatar, ternyata tak membuat Shadiq gentar.

Setelah kalah, Shadiq pun mengikhlaskan. Sebagai aktivis pemuda Sumbar, Shadiq sering berkunjung ke berbagai pelosok di kampungnya, setiap pulang kampung. Aktivitas itu kemudian “mengundang” perhatian pemuda kampung untuk meminta kehadirannya pada setiap alek nagari (kegiatan di nagari). Ternyata, tanpa disadari semakin banyak yang mengenal keberadaan dirinya, dan sekaligus menilai sosoknya sebagai pribadi yang bersahaja. Empat pasangan kandidat yang ada, Shadiq – Aulizul mengantongi lebih dari 52 persen suara.

Kemenangan pasangan Shadiq – Aulizul Syuib, sebenarnya sudah diperkirakan banyak orang, sejak KPUD menetapkan pasangan yang akan berlaga di Pilkada. Proses pemungutan suara seakan hanya menjadi momentum ijab kabul saja.

Jelang dan selama kampanye, pasangan Shadiq – Aulizul memang kalah diatribut, iklan dan pariwara. Malahan keberadaannya pun nyaris tanpa iklan dan pariwara di media. Kondisi itu bertolak belakang dengan apa yang pada incumbent, Masriadi Martunus dan pasangannya Nafriadi Hamdi, yang ketika itu menjabat Sekkab di kabupaten itu juga.

Apa yang terjadi pada Shadiq, juga serupa dengan Amri Darwis – Irfendi Arbi. Duet senior dan generasi muda ini, juga tanpa iklan dan pariwara di media. Sekali pun demikian, pasangan ini memperoleh 30,59 persen suara. Incumbent Alis Marajo yang berpasangan dengan Zagli Bros, yang juga sama-sama ketua partai (Alis Marajo, ketua Partai Golkar Limapuluh Kota. Zagli Bros, ketua PAN Limapuluh Kota) hanya di posisi ketiga dengan perolehan 26,95 persen.

Dimana titik keunggulan Amri Darwis – Irfendi Arbi? Banyak yang menduga, keduanya telah “menggarap” pasar sejak lama. Selain menjadi wakil bupati mendampingi Alis Marajo, Amri Darwis juga seorang tokoh agama di kabupaten tersebut. Semasa menjadi wakil bupati, aktivitasnya ke masjid dan mushalla tak pernah dikurangi. Malahan jadwalnya semakin padat.

Irfendi Arbi pun demikian. Setelah kalah bertarung di Kota Payakumbuh, lima tahun sebelumnya, tokoh muda Sumbar yang sangat kritis sejak menjadi mahasiswa ini pun tak henti-hentinya berkomunikasi dan berdialog dengan masyarakat. Selain membangun jembatan hati dengan generasi muda, kunjungannya ke daerah sebagai pegawai di Dinas Perkebunan dan Tanaman Pangan Provinsi Sumbar membuatnya semakin dekat dengan petani, khususnya para petani di kampung halamannya.

Muklis Rahman yang menang di Kota Pariaman, sebenarnya bukanlah orang asing di kota yang hanya terdiri dari tiga kecamatan itu. Karirnya sebagai PNS bergerak naik dan nyaris tanpa cacat. Mantan Kabag Humas Pemkab Padangpariaman (kemudian Padangpariaman dimekarkan dengan kehadiran Kabupaten Mentawai dan Kota Pariaman) itu dikenal sangat dekat dengan berbagai kalangan, sampai kemudian menjadi Sekko Pariaman. Lalu mengundurkan diri dari jabatan itu, lantaran (konon) adanya perbedaan prinsip dengan walikota masa itu.

Dibandingkan incumbent, atribut kampanye yang dimiliki Muklis Rahman lebih sedikit. Begitu pun dengan iklan dan pariwara di media. Tidak sebanding.

Kemenangan Syahiran di Kabupaten Pasaman Barat juga sudah diramalkan sejak lama. Begitu Syahiran dan pasangannya Risnawanto mendaftarkan diri ke KPUD, gelombang optimisme itu muncul.

Optimisme itu tidaklah berlebihan. Bertahan-tahun Syahiran pernah bertugas di wilayah kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Pasaman itu. Ketika wilayah Kabupaten Pasaman Barat masih menjadi bagian dari Kabupaten Pasaman, daerah itu cenderung terabaikan. Jauh dari jangkauan pemutus kebijakan. Arah kebijakan pembangunan lebih dikonsentrasikan ke arah timur, atau berada dilingkup kabupaten induknya.

Selama bertahun-tahun bertugas di Simpangampek, ibukota kabupaten Pasaman Barat sekarang, Syahiran sangat menikmatinya. Apalagi sebagai putra daerah setempat, Ia menikmati tugas yang diberikan kepadanya, dan menjadi bagian dari tempat mengadu masyarakat setempat dalam banyak hal.

Yang agak berbeda, mungkin hanya Kabupaten Pasaman. Bupati incumbent-nya mengundurkan diri karena bertarung di Pasaman Barat. Wakil Bupati Pasaman Benny Utama bertarung dengan para pendatang baru. Kemenangan pendatang baru, dimungkinkan karena dua alasan mendasar. Pertama, mobilitas mesin politik (PKS) yang bergerak pantang menyerah. Kedua, keinginan masyarakat untuk mendapatkan suasana dan perubahan mendasar. Yusuf Lubis – Hamdi Burhan memperoleh suara 46,30 persen.

Di kabupaten Solok, sekali pun Wakil Bupati Elfi Syahlan Ben ikut pada pesta demokrasi ini, namun popularitas Sekkab Gusmal sulit dibendung. Di kabupaten itu, Elfi Syahlan Ben hanya mendampingi Gamawan Fauzi selama satu periode, sedangkan Gusmal merupakan pejabat karir di lingkup Pemkab Solok hingga mencapai jabatan Sekkab, sehingga tak mengherankan kalau kemudian Gusmal 36,27 persen suara.

Kemenangan Gamawan Fauzi pada Pilkada Gubernur Sumbar juga sudah diperhitungkan sejak awal. Selain dilambungkan oleh Bung Hatta Award, sebenarnya ketika memimpin Kabupaten Solok selama dua periode, popularitas mantan Kabiro Humas Pemprov Sumbar ini tak perlu diragukan. Banyak terobosan yang mencuatkan namanya, terutama kepedulian kepada masyarakat miskin, termasuk memindahkan orang sekampung dari Sariakbayang yang berada dalam hutan ke daerah yang lebih memberikan kehidupan.

Pasangan yang diusung PDI Perjuangan dan Partai Bulan Bintang itu telah mengantongi 46,71 persen suara. Lalu diikuti Irwan Prayitno – Ikasuma Hamid (Partai Keadilan Sejahtera) dengan 28,55 persen suara, Jeffrie Geovanni – Dasman Lanin 12,85 persen, kemudian Leonardy Harmaini – Rusdi Lubis (Partai Golkar) dengan 6,51 persen, Kapitra Ampera – Dalimi Abdullah (PPP dan Partai Demokrat) di posisi terakhir dengan 5,38 persen.

Pada Pilkada Gubernur Sumbar ini, jika dihitung-hitung maka popularitas Jeffri Geovanni justru didongkrak oleh bilboard, spanduk, liflet, iklan dan pariwara. Tak hanya di media cetak dan elektronik, tetapi juga pada media luar ruang. Pencapaian hingga menembus tiga besar tersebut, sebenarnya sudah tergolong spektakuler jika dibandingkan dengan sebuah pertanyaan yang sulit dijawab; siapa sih Jeffrie Giovanni?

Harus diakui, nyaris tak banyak yang tahu dengan JG (sapaan akrabnya pada Pilkada). Publik hanya tahu kehadirannya jelang Pilkada berlangsung. Sebelum dan sebelumnya lagi, nyaris tak ada yang mengenalnya. Hebatnya lagi, sekali pun tidak dikenal, namun JG mampu mengalahkan Leonardi Harmaini (Ketua DPRD Sumbar dan juga Ketua Partai Golkar Sumbar) yang berpasangan dengan Rusdi Lubis (Sekdaprov Sumbar), serta Kapitra Ampera, anak muda yang sebelumnya sudah dikenal sebagai pengacara, yang berpasangan dengan Dalimi Abdullah, Kakanwil Depag Sumbar.

Melihat fenomena di atas, maka terjawablah bahwa incumbent dan modal langsung selama kampanye tidak menjadi jaminan akan bisa memenangkan pertarungan. Modal utama yang akan menjadi jaminan hanyalah menanamkan investasi positif dalam rentang waktu yang cukup panjang.

Kalaulah investasi positif dalam rentang waktu yang cukup panjang sudah dilakukan, apalagi kalau hal itu dilakukan incumbent, maka hasilnya justru akan lebih spektakuler. Syuir Syam, di Padangpanjang meraup hingga 81 persen suara. Bukittinggi kembali digenggam Djufri hingga 50 persen lebih. Aristo Munandar mengumpulkan 38 persen lebih.* (Catatan : waktu tulisan ini dibuat, penulis masih menjabat Pimpinan Redaksi Harin Pagi Padang Ekspres)

 

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.