DEMOKRASI DAN PEMIMPIN KILOMETER NOL

DEMOKRASI DAN PEMIMPIN KILOMETER NOL

Judul :  Hitam Putih Demokrasi

Penulis : Ruslan Ismail Mage

Penerbit : SIPIL INSTITUT

Terbit : Januari 2012

Ukuran : x+ 182 Halaman

Sejak kelahirannya demokrasi selalu menjadi inspirasi bagi penghayal kebebasan. Bahkan orang mati sekalipun seandainya bisa bangkit pasti ikut berteriak demokrasi. Lalu apa kelebihan demokrasi dibanding sistem pemerintahan lainnya? Akademisi dunia Robert Dahl sudah mengingatkan bahwa mengharapkan demokrasi bisa menyelesaikan seluruh perosoalan kebangsaan adalah suatu kebodohan terbesar sebagai warga negara. Itulah yang tergambarkan secara gamblang dalam buku HITAM PUTIH DEMOKRASI (Kepemimpinan dan Pemilukada) karangan Ruslan Ismail Mage.

Buku ini mencoba mengajak pembaca untuk merekonruksi ulang pemikirannya tentang demokratisasi yang sedang berjalan di Indonesia. Bung Ruslan mencurigai ada sesuatu yang salah dalam proses demokratisasi di Indonesia yang cenderung mengadopsi mentah-mentah demokrasi liberal yang menganut sistim ekonomi kapitalis yang hanya akan menggirin negeri yang kaya ini menjadi negara berutang tinggi.

Dengan kajian leteraturnya disinergiskan dengan realitas politik yang terjadi di Indonesia, penulis baku ini menyodorkan data tentang warnah hitam putih demokrasi. Maksudnya demokrasi bisa memakmurkan sekaligus bisa memiskinkan, bisa mendamaikan sekaligus bisa menciptakan industri konflik. Di halaman tiga secara teoritis dan detail dijelaskan beberapa pendapat ahli dan akademisi politik dunia yang mendukung konsep hitam putih demokrasi.

Dari beberapa sub judul yang ditawarkan, yang paling menggelitik dan memberi nuansa baru adalah sub judul di halam 38 yaitu “Pers Racun Demokrasi”. Dikatakan menggelitik karena semua literatur demokrasi yang ada selama ini mengatakan pers sebagai kekuatan keempat demokrasi. Pers memang kekuatan keempat demokrasi, tetapi buku ini menjelaskan pers bisa saja menjadi racun demokrasi. Itulah kensekuensi penafsiran ganda teori pers bebas, semua pers bisa bebas membuat berita tanpa boleh diintervensi institusi lain, tetapi sebagian juga pengelola media kegenitan bebas menjual rubriknya kepada politisi dan birokrasi.

Membaca bagian pertama buku ini seakan penulisnya memberi warning kepada pembacanya, bahwa hati-hatilah berjuang atas nama demokrasi, karena bisa jadi yang diperjuangkan adalah demokrasi liberal yang bisa menggiring NKRI masuk ke dalam jurang kegelapan hingga akhirnya hilang dalam peta dunia. Penulisnya mempertegas, kalau ingin berjuang atas nama demokrasi maka perjuangkanlah Demokrasi Pancasila. Hanya Demokrasi Pancasila yang bisa membingkai NKRI dari proses Balkamnisasi.

Bagian kedua buku ini lebih vokus mengkaji kepemimpinan yang lahir pasca reformasi. Penulis melihat bahwa demokrasi liberal yang dianut di Indonesia hanya mampu melahirkan pemimpin yang berpikir liberal dengan mengandalkan kekuatan uang. Akibatnya ketika terpilih, pemimpin seperti ini akan cenderung melanggar peraturan dalam mengembalikkan modal kampanyenya. Di halaman 53 dijelaskan bahwa sejatinya negara sebesar dan sekaya Indonesia harus dipimpin oleh Pemimpin yang Bertasbih. Pemimpin yang semua pancaindranya bertasbih untuk kepentingan rakyatnya, bukan kepada kepentingan kapitalisme global. Tetapi sayangnya pemimpin yang lahir pasca reformasi di Indonesia hanya pemimpin yang menganut ‘Filosofi Kilometer Nol’.

Pasca reformasi semua pemimpin terpilih serta merta mengganti semua program pemimpin lama karena dianggap tidak reformis. Celakanya UUD 1945 di amandemen beberapa kalai hanya atas nama demokrasi bukan atas nama kepentingan rakyatnya. Lebih celakanya lagi GBHN sebagai garis-garis besar haluan negara dibuang, 36 butir Pancasila disapu masuk got. Akibatnya pembanguan ekonomi, politik, sosial dan budaya negeri ini berjalan tanpa arah.

Halaman 57 dijelaskan, selain demokrasi Indonesia hanya mampu melahirkan pemimpin yang menganut filosofi kilometer nol, juga melahirkan pemimpin yang gemar ‘Menjadi Satpam Rumah Investor’. Penulis menyoroti bahwa dalam demokrasi modern, penguasa atau pemimpin di negara-negara sedang berkembang tidak terkecuali Indonesia hanya di jadikan satpam penjaga rumah investor. Tugasnya memproteksui semua kegiatan bisnis investor dan menggigit atau menangkapi rakyatnya yang mencari sesuap nasi di wilayah-wilayah pertambangan. Bagian kedua buku ini juga memperkenalkan konsep baru tetapi sangat klasik, yaitu ‘Kecerdasan Memanipulasi’ yang menekankan bahwa tidak ada peristiwa politik tanpa manipulasi.

Sementara di bagian ketiga buku ini mencoba menawarkan warna-warni pemilukada di beberapa wilayah di Indonesia. Dari materinya yang begitu beragam buku ini layak di jadikan buku referensi bagi mahasiswa, aktifis, dan pemerhati masalah politik. Dibalik beragamnya metari yang ditawarkan buku ini, ada satu yang mengusik keasikan membacanya ketika menemukan ada kesalahan ketikan. Semoga di edisi berikutnya dapat diperbaki. (Peresensi : Ahmad Alimuda)

 

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.