Komat-Kamit Politik

Judul buku ini cukup menarik seolah-olah mengajak pembaca untuk menikmati dunia perdukunan dikaitkan dengan peristiwa atau kejadian politik di Tanah Air. Namun, ternyata tak ada soal klenik atau takhayul yang dibicarakan dalam buku ini seperti pikiran sementara pihak yang sering kali mengaitkan fenemona alam tertentu dengan peristiwa politik yang telah dan bakal terjadi.

Menurut penulisnya, judul yang dibuatnya sebagai “komat-kamit” itu sebagai kata yang selalu ditujukan kepada seorang dukun yang sedang membaca mantra-mantra dalam mengobati penyakit.

Berobat melalui dukun, penyakit bisa menjadi sembuh atau sebaliknya makin parah. Ini sama halnya, masih menurut si penulis buku, seperti seorang politisi yang sedang berkampanye pada musim pemilu/pilkada.

“Dengan segala macam cara (janji-janji) bisa mengobati penyakit kronis di tubuh bangsanya, para politikus berkomat-kamit di atas panggung politik. Mulut sampai berbusa berteriak merangkai kata melamar rakyat,” ujar penulis dalam kata pengantarnya.

Politisi sama halnya seperti dukun yang menjual obat atau kehebatannya. Kalau terpilih, politisi berjanji akan menyejahterakan rakyat dengan menciptakan lapangan pekerjaan, membebaskan (menggratiskan) sekolah dan pengobatan, beras murah, menaikkan upah buruh, menyediakan pupuk murah, dan sebagainya.

Kalau bangsa ini dipimpin politisi (atau dukun) yang hanya pintar berkomat-kamit di depan rakyat-rakyatnya yang sudah kelaparan, maka “penyakit bangsa” ini tidak bisa disembuhkan.

Secara garis besar buku ini dibagi dalam tiga bagian. Pertama, buku ini mengkritisi globalisasi politik yang semakin menembus batas-batas negara miskin. Dengan keadilan dan persamaan hak, negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, terus merangsang, kalau tidak memaksa negara-negara sedang berkembang untuk membangun demokratisasi di negerinya.

 

Kapitalisme Global

Akibatnya, proses transisi demokrasi yang terjadi di negara berkembang, yang menimbulkan konflik berkepanjangan, menjadi celah bagi Amerika Serikat untuk membantu negara tersebut. Namun, yang terjadi adalah kapitalisme global masuk menancapkan kuku-kuku raksasanya.

Bagian kedua, merekam situasi politik dan beberapa perilaku elite politik pada waktu pemilu legislatif dan pemilihan presiden yang lalu. Berbagai realitas politik ditampilkan dengan upaya membahasakannya secara populer.

Bagian ketiga buku ini, berisi kondisi sosial ekonomi negara, yang menurut penulisnya, dilakukan oleh perbuatan elite yang gemar merampok uang negara. Akibatnya, rakyat makin menderita, terlebih biaya pertarungan elite politik ini dalam memperebutkan kekuasaan dibebankan kepada rakyat.

Kritik terhadap isi buku ini kurang mengeksplorasi dan mengupas kejadian dan peristiwa politik kontemporer. Buku ini terlalu akademis dan teoritis. Mungkin ini menjadi konsekuensi sebuah karya akademis seperti tesis yang kemudian dibukukan. Si penulis berusaha memopulerkan karya akademis, namun terlalu dipaksakan. (Victor AS)

Judul Buku                 : Komat-kamit Politik
Penulis                         : Ruslan Ismail Mage
Penerbit                       : Citra Harta Prima
Tahun Penerbit          : 2009
Jumlah halaman       : 158

 

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.