Lakukan Edukasi, bukan Bagi-bagi Uang

Lakukan Edukasi, bukan Bagi-bagi Uang

Padang, Padek 29 Juli 2011— Politik pada dasarnya sudah menjadi suatu industri raksasa yang diminati banyak orang. Karena politik sudah menjadi suatu industri maka harus memahami strategi cerdas investasi politik untuk bisa merebut pasar demokrasi. Kalau tidak memahmi strategi investasinya, berapapun modal disiapkan pasti tidak cukup dengan hasil yang tidak bisa diprediksi.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif SIPIL INSTITUT Ruslan Ismail Mage, yang menjadi narasumber pada acara pertemuan perempuan politik se-Sumbar yang dilaksanakan Badan Pemberdayaan Perempuan Sumatera Barat di Pangeran Beach Hotel.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan dan disiapkan agar bisa meraih kursi pada pemilu tanpa mengeluarkan biaya besar, yaitu harus dimulai sejak jauh-jauh hari sebelum pemilu dimulai. Minimal dua tahun sebelum pemilu kita sudah menentukan sikap, dan merancang strategi dengan orang-orang kepercayaan,” ujarnya.

Kemudian, dia menganjurkan agar masing-masing perempuan yang ingin menjadi calon legislatif, jangan hanya berdiam diri di rumah, tetapi harus dari sekarang mengikuti kegiatann organisasi kemasyarakatan sebanyak-banyaknya, menebar senyum familiar ke semua orang, sehingga menghilangkan kesan baik kalau ada maunya.

Kepada politisi perempuan, dia mengimbau untuk memaksimalkan semua sumber daya yang dimiliki. “Jalin silaturahmi sebanyak-banyaknya, sehingga ketika bursa pencalonan dibuka, tidak perlu mengeluarkan dana yang banyak untuk menggaet konstituen,” paparnya.

Sementara pembicara kedua anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Sumbar, Emma Yohana lebih vokus pada pentingnya pendidikan politik. Pendidikan politik bukan hanya ditujukan kepada orang yang akan terjun ke dunia politik, tetapi juga masyarakat atau konstituen. Akibat minusnya edukasi politik pada konstituen selama ini, muncul imej di tengah masyarakat bahwa politik identik dengan bagi-bagi uang, pragmatis alias transaksional.

Emma menjelaskan, selama ini pelaku politik seringkali membagi-bagi uang dalam upaya mendekatkan diri pada masyarakat. Itu pula yang membuat masyarakat, setiap bertemu anggota dewan, baik di tingkat pusat sampai daerah, selalu berpikiran hanya sumbangan dan proposal.

Akibatnya, ketika anggota dewan melakukan kunjungan untuk menjemput aspirasi, yang didapat adalah proposal. Makanya, kebijakan yang akan diambil sering tidak maksimal karena tidak sesuai aspirasi konstituen,” jelasnya.

Dia menceritakan, di meja kerjanya yang paling banyak itu adalah tumpukan proposal, bukannya aspirasi yang ingin disampaikan melalui dirinya. Pada acara itu, anggota Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Sumbar yang hadir saling membagi pengalaman dan “curhat” mengenai keterwakilan perempuan dalam parlemen.

Ibu-ibu yang hadir diberi wawasan dan pencerahan mengenai bagaimana trik meyakinkan audiens agar memilih perempuan pada pemilu nanti. Bahkan, salah seorang peserta asal Solok mempertanyakan pada Emma Yohana selaku ketua KPPI Sumbar, kenapa hanya dua anggota dewan perempuan yang senantiasa hadir dan memberikan bimbingan pada anggota KPPI. Padahal, ada tujuh anggota KPPI yang duduk menjadi anggota dewan.

“Dulu sebelum pemilu rajin ikut acara, namun setelah terpilih, tidak pernah muncul ke permukaan kecuali ibu Emma dan Siti Izzati Aziz, yang lain ke mana?” ujar salah seorang peserta. Kepada peserta, senator asal Pasaman Barat ini memberi trik untuk bisa meyakinkan perempuan agar memilih perempuan dalam politik. “Tanamkan citra yang baik, bahwa perempuan itu bisa mewakili dan mengambil kebijakan mengenai perempuan. Yang paling utama adalah ikhlas,” ujarnya.


 

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.