MACHIAVELLIAN SEJATI

MACHIAVELLIAN SEJATI

Ruslan Ismail Mage (Direktur Eksekutif SIPIL INSTITUT)

 

Niccolo Machiavelli, adalah anak emas Renaissance, demikian sering kita mendengar pemerhati sejarah pemikiran politik dunia menilai sosok seorang Machiavelli. Statement itu nampaknya tidak berlebihan ketika kita sudah mencoba melakukan pengembaraan intelektual ke wilayah pemikiran politik jaman Reinassance, karena di sana kita akan menemukan beberapa data sejarah tentang ketajaman pemikiran Machiavelli. Satu karya besarnya yang tidak pernah dibatasi ruang dan waktu, untuk diperdebatkan adalah The Prince yang disebut-sebut mempunyai kontribusi yang besar dalam proses perubahan dunia seperti kita saksikan sekarang terutama dalam membangun kultur politik pada masa modern ini.

Persoalannya kemudian yang menarik untuk dikritisi, bahwa dibalik begitu besarnya kontribusi pemikiranya terhadap pembangunan kultur politik dunia,  manusia Mchiavelli sipeninggalnya diubah menjadi Hantu Machiavelli yang menakutkan. Kita semua mungkin bersifat tidak bijaksana telah menggunakan atau memikirkan pemakaian istilah Machiavellian untuk menggambarkan suatu tindakan atas sebagian dari suatu negara, seorang politikus atau bahkan seorang kawan, yang hanya mementingkan diri sendiri, licik, munafik, tidak jujur, pembohong, pengecut dan tanpa suatu jastifikasi moral, atau bahasa yang dipahami umum tindakan “Menghalalkan Segala Cara” selalu diidentikaan dengan Machiavelli.

Karena itu, setelah memasuki kawasan berpikir seorang Machiavelli, kecerdasan intelektual saya tersentuh. Machiavelli yang selama ini dianggap hantu politik ternyata seorang dewa pemikir politik, yang karya-karyanya mampu menembus tiga dimensi waktu, masa lalu, sekarang, dan yang akan datang. Untuk melihat sosok Machiavelli coba gunakan teropong yang terbuat dari tahun 1469 sampai 1527. Di sana kita akan menemukan alasan-alasan pembenar bahwa Mchiavelli bukanlah seorang pembela Tirani, meskipun ia menganjurkan tindakan yang keras. Bukan seorang yang gemar akan ketidakjujuran, meskipun ia mengatakan bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang pintar tidak menepati janji. Kalaupun harus menepati janji, maka janji itu harus memberi kontribusi terhadap kepentingan kekuasaan.

Untuk membuktikan bahwa Machiavelli bukan seorang penganut paham militeristik atau pendukung tirani, maka coba salami jiwanya. Kita akan menemukan sosok berbeda tentang Machiavelli yang tereksploitasi selama ini sebagai pemimpin berjiwa singa (akan menerkam secara kejam siapapun yang menghalangi kekuasaannya). Ternyata ia sebagai seorang seniman, seorang sastrawan Italia terbesar pada jamannya, seorang penulis cerpen terkenal yang bertajuk Befagor, dan menulis beberapa puisi di salah satu buku harianya. Dengan demikian Machiavelli bisa disebut seorang yang luas kepentingannya dan bervariasi prestasinya.

Itulah Machiavelli dibalik kekerasan sikapnya, tersebunyi jiwa romantis yang terpancar lewat karya-karya sastranya, seperti cerita pendek (cerpen) dan puisi-puisinya. Lalu kenapa seorang Machiavelli harus megingkari nuraninya dengan muncul di gelanggang politik memakai topeng kepura-puraan. Jawabanya : Itulah konsekuensi politik dari pilihan hidupnya. Sebab ketika orang sudah menentukan pilihan hidup untuk memasuki wilayah politik, maka pada saat itu juga harus pandai mengingkari nuraninya untuk memasuki wilayah kepura-puraan. Untuk mencari pembenaran tesis ini, berikut kita coba jelajahi tiga pengalaman Machiavelli yang telah membentuk kerakternya.

Pertama. Dalam bukunya The Prince, Machiavelli mengatakan bahwa negara yang kuat adalah negara yang mempunyai Militer yang kuat. Oleh sebab itu seorang kepala negara hendeklah berkosentrasi bagaimana membangun kekuatan militer yang tangguh dalam melakukan peperangan mempertahankan kekuasaanya. Sebaliknya seorang pemimpin yang tidak mempunyai kekuatan militer dan tidak menguasai strategi perang, suatu saat akan kehilangan negaranya.

Machiavelli dalam melihat realitas masyarakatnya yang mengalami rentetan pasang surut perkembangan dan perubahan, khususnya ancaman para penyerang dari luar, terutama serbuan pasukan Perancis dan Spanyol yang menjadikan kota-kota di Italia sasaran empuk perampokan, kemudian menyimpulkan bahwa suatu pemerintahan harus dibangun di atas dasar yang kuat sehingga kekuasaan stabil. Dasar stabilitas kekuasaan adalah hukum yang baik didukung angkatan bersenjata  yang kuat.

Dari penjelassan pertama ini, Machiavelli menjadi pemimpin yang menggunakan kekuatan militer untuk mempertahankan kekuasaan di latarbelakangi kondisi sosial masyarakatnya yang sangat rapuh dan selalu menjadi sasaran empuk perampokan dari negara lain. Dalam konteks ini masikah kita perlu memandang Machiavelli sebagai seorang yang tidak berperikemanusiaan atau sosok yang tidak bermoral karena menghalalkan segala cara untuk mempertahankan kekuasaannya. Siapapun pemimpin yang berada pada jamanya Machiaveli akan melakukan hal yang sama dengan membangun mesin perang untuk mempertahankan negaranya.

Lalu di abad modern ini, siapa negara yang tidak menerapkan tesis Machiavelli yang menganjurkan setiap negara kalau ingin kuat dan disegani harus memiliki kekuatan militer yang kuat. Siapa yang bisa meragukan Amerika Serikat yang membangun industri militer bukan Machiavellian sejati, lalu bagaimana suatu rezim yang dibangun diatas kepalsuan dan kebohongan? Apakah mereka bukan Machiavelli sejati!

Kedua. Sebagai seorang diplomat Machiavelli ketika melakukan beberapa kunjungan ke luar negeri khususnya ke Perancis untuk mencari dukungan dalam mempertahankan wilayahnya sering mendapat hinaan dan cemooh dari Raja Louis. Raja Perancis itu tidak menghargai sama sekali negara-kota yang kecil karena tidak memiliki tentara yang kuat, dan hanya diatur oleh pengusaha yang kikir dalam mengeluarkan uang untuk menghadapi peperangan. Machiavelli mendengarkan langsung kota yang dicintainya itu dihina sebagai Ser Nihilo (Tuan Nol).

Penghinaan itu membuat Machiavelli marah, namun dibaik itu ia mendapat pelajaran besar dari peristiwa yang dialaminya. Dari hinaan itu ia jadi tahu bahwa dalam permainan politik yang dibutuhkan tidak hanya cermat, cakap dan berbudaya, tetapi harus mengeluarkan banyak uang (money politics istilah populisnya), mampu menggunakan kekuatan militer dan cepat mengambil keputusan-keputusan untuk bertindak secara dinamis.

Dari penjelasan kedua ini, masikah kita bisa membantah bahwa dalam sistem pemerintahan demokrasi uang tidak berbicara? Amerika Serikat yang dianggap sebagai kampiun demokrasi modern di dunia, justru dalam pemilihan langsung presidennya, uang yang sangat menentukan. (Tidak percaya! Baca buku FINANCING POLITICS, Politik Uang dalam Pemilihan Presiden Langsung di Amerika Serikat, karya Herbert E. Alexander).

Ketiga. Pada tahun 1502 Machiavelli melihat secara langsung Kaisar Borgia melakukan penaklukan dengan menggunakan gabungan antara kekuatan dan kecerdikan yang lihai. Kaisar memperdaya musuh-musuhnya dengan janji-janji dan kemudian memukul mereka keras-keras dari belakang. Teknik ini ternyata mampu memporak-porandakan lawan politik Kaisar.

Dari pengalamnya itu, Machiavelli kemudian berpendapat bahwa seorang pemimpin kalau mau berkuasa hendaklah tidak menepati janji bila perbuatan demikian, menepati janji bertentangan dengan kepentingannya. Selama janji itu tidak memberi kontribusi kepada kelangsungan kekuasaannya, maka jangan pernah mencoba menepati janji.

Itulah sebabnya seorang penguasa harus pintar hidup dalam kepura-puraan. Adalah baik untuk berpura-pura mempunyai balas kasihan, berprikemanusiaan, jujur, dan setia. Tetapi di satu sisi hendaklah seorang penguasa memiliki kemampuan yang cepat menyesuaikan diri sehingga jika diperlukan menjadi lain, dapat dengan segera menukarnya menjadi singa yang menakutkan.

Kalau kita menggunakan ketiga tesis ini, maka semua penguasa dari jaman Yunani kuno sampai pemimpin hari ini adalah seorang Machiavellian sejati. Karena sejak kelahiranya manusia itu sudah mempunyai bakat alami untuk berkuasa, tidak jujur, tidak adil, korupsi, berbohong, dan mementingkan diri sendiri. Jadi kerakter Machiavelli pada dasarnya adalah kerakter alami setiap manusia ketika berkuasa. Lihatlah partai-partai politik yang akan berlomba-lomba mengeksploitasi janji-janjinya kepada rakyat saat kampanye nanti. Lihatlah penguasa yang hanya memikirkan dirinya dan kelompoknya. Itulah sebabnya Machiavelli selalu berbicara menurut realitas politik.

 

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.