MENAKAR EKONOMI DALAM BINGKAI POLITIK

MENAKAR EKONOMI DALAM BINGKAI POLITIK

Judul :  Industri Politik

Penulis : Ruslan Ismail Mage

Penerbit : RM BOOKS

Terbit : Maret 2009

Ukuran : x+ 250 Halaman

Dominasi ekonomi semakin berperan penting dalam kancah perpolitikan. Perkawinan ekonomi dan politik saat ini bagaikan teman satu ranjang yang tak dapat dipisahkan. Politik layaknya industri yang sarat dengan banyak kepentingan dan keuntungan semata. Itulah yang tergambarkan secara gamblang dalam buku “Industri Politik” karangan Ruslan Ismail Mage. Buku ini mencoba memberi gagasan pencerahan betapa kekuatan ekonomi tanpa disadari nyata berpengaruh dalam dunia politik. Kelompok yang memiliki akses ekonomi dan politik memanfaatkan momentum pesta demokrasi sebagai ajang menghamburkan uang dengan tujuan jabatan semata.

Politik sudah menjadi suatu “Industri Raksasa” yang butuh banyak modal untuk investasi. Konsekuensi logis yang harus diterima dari semua itu adalah hanya beberapa individu dan kelompok yang mampu dan dapat bermain dalam memenangkan transaksi demokrasi. Buku ini semakin mempertegas indikasi bahwa pada dasarnya demokrasi dan uang adalah dua sisi yang tak dapat dipisahkan sehingga menjadi komoditas yang dapat mempengaruhi dalam pergolakan politik. Buku ini memaparkan adanya titik yang membedakan antara industri barang dengan industri politik. Pertama, terletak pada biaya produksi dan produk yang dihasilkan. Kalau industri barang biaya produksinya didapatkan setelah produk yang ditawarkan laku di pasaran. Lain halnya dalam industri politik yang biaya produksinya harus dibayar lebih dahulu oleh pemegang saham, tanpa harus menunggu apakah produk yang ditawarkan dipasar laku atau tidak. Kedua, Industri barang menghasilkan produk benda kongkret (benda nyata, dapat dilihat dan dapat diraba).Sementara dalam industri politik, produknya bersifat abstrak kaarena ia berupa konsep atau pemikiran yang kemudian akan dijabarkan atau dipublikasikan di lapangan oleh para pemegang sahamnya (politisi).

Kekuatan modal tampaknya menjadi primadona tersendiri dalam merebut tampuk kekuasaan diulas secara rinci. Banyaknya modal yang dibutuhkan tergantung pada drajat bursa demokrasi yang dirasukinya. Sebagai gambaran dapat dilihat dari beberapa biaya yang dikeluarkan caleg di DPRD Provinsi berbeda dengan biaya yang dikeluarkan caleg DPR RI pada pemilu legislatif. Untuk bisa terpilih menjadi anggota legislatif di DPRD Provinsi, setiap caleg harus menyiapkan dana kurang lebih Rp.100-300 juta rupiah. Sementara untuk terpilih sebagai anggota legislative di DPR RI, minimal caleg harus menyiapkan dana Rp. 500 juta – 1 miliar rupiah. Jika angka minimal ini dikalikandengan jumlah kursi yang akan diperebutkan, maka uang yang beredar pada pemilu legislatif kurang lebih Rp. 280 miliar. Tidak heran banyaknya cerita caleg yang stress dan gila diduga dikarenakan kerugian materi.

Dalam demokrasi modern, politik itu mahal dan butuh modal yang tidak sedikit untuk bisa ikut berkompetensi dalam memperebutkan jabatan atau kekuasaan. Suka tidak suka, itulah kenyataan politik yang saat ini terjadi. Bagaimana pun, buku ini menarik dibaca dalam konstelasi pesta demokrasi yang sedang terjadi.

By : Tengku Andyka (Ketua LKM 2009-2010)

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.