Negeri 1001 Maling

Negeri 1001 Maling

Ruslan Ismail Mage (Direktur Eksekutif SIPIL Institut)

Kalau Irak disebut negeri 1001 malam, maka Indonesia bisa disebut negeri 1001 maling. Demikian celoteh mengawali suatu dialog intelektual dengan teman-teman di Pascasarjana Ilmu Politik UI mengenai Teori Ketergantungan beberapa waktu yang lalu. Salah satu di antaranya yang menarik diperdebatkan adalah keasyikan pemerintah Indoensia selalu menggunakan fasilitas bantuan luar negeri. Hal ini menjadi menarik dikritisi, karena fakta tidak terbantahkan selama Orde Baru sampai Orde Reformasi sekarang, utang bangsa Indonesia bukannya berkurang, tetapi justru sebaliknya bertambah terus.

Ada kecenderungan pemimpin yang berkuasa memanfaatkan kesempatan untuk memperbanyak utang tanpa harus melihat dampaknya, karena menurut logika politiknya yang akan bertugas menyelesaikan utang adalah pemimpin berikutnya. Sebagai catatan pada bulan Maret 1998, total utang luar negeri Indonesia mencapai 138 miliar dolar AS. Pada akhir tahun anggaran 1998/1999 jumlah utang luar negeri Indonesia telah mencapai 146,5 miliar dolar AS. Jumlahnya kemudian membengkak tahun 2002 dengan total 213 miliar dolar AS, dan sampai pertengahan tahun 2004 ini utang bangsa yang subur ini sudah kurang lebih 500 miliar dolar AS. Bahkan sekarang menurut pengamat setiap bayi yang baru lahir di Indonesia sudah harus menanggung beban utang sekitar delapan juta. (Artikel terkait MANUSIA SERIGALA – Konspirasi 3P merampok Uang Negara)

Dalam dunia yang semakin mengglobal hampir tidak ada negara yang mampu berdiri sendiri tanpa bantuan dari negara lain. Persoalannya kemudian ketika ada beberapa negara yang sukses mengolola pinjaman luar negerinnya dengan baik, tetapi ada juga negara yang justru setiap tahun hanya menamba beban hutangnya. Jadi pada dasarnya pinjaman luar negeri itu bisa menguntungkan, selama dikelola dengan jujur dan transparan. Tetapi kalau pinjaman itu dikendalikan oleh birokrasi yang korup, kemudian berkolaborasi dengan maling-maling berdasi, maka sebanyak apa pun pinjaman itu pasti habis tanpa hasil yang menjanjikan.

Tulisan ini bukan untuk mencela bangsa sendiri, tetapi faktanya menunjukkan bahwa negara kita adalah termasuk negara terkorup di dunia, maka jangan pernah bermimpi kalau hutang luar negeri bisa berkurang apalagi terlunasi. Soalnya pinjaman itu tidak pernah dikelola dengan baik untuk bisa membangun bangsa apalagi mensejahterakan rakyat, tetapi hanya dijadikan lahan korupsi oleh beberapa orang untuk tujuan-tujuan tertentu.

Siapa yang menyangsikan kalau negara ini tidak dihuni 1001 macamnya maling, mulai dari pejabat tertinggi sampai pejabat terendah sengaja atau tidak sengaja pintar semua memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya dengan menghalalkan segala macam cara, tanpa memikirkan nasib rakyat kecil yang semakin banyak menderita kelaparan. Mulai maling sandal jepit, kambing, sampai maling triliunan rupiah ada semua bercokol di republik subur ini.

Kesadaran intelektual kita sebagai anak-anak bangsa, terkoyak-koyak lagi katika di tengah rakyat menderita kelaparan, uang negara justru seenaknya dicuri oleh orang-orang elite ekonomi. Mulai dibobolnya dana BNI Rp I,7 triliunan oleh seorang wanita yang sampai saat ini masih seenaknya ongkan-ongkan kaki di Singapura, kemudian menyusul uang BRI dicuri ratusan juta rupiah, sampai salah satu anak perusahaan pertamina yang berbasis di Singapura dibobol 8,2 juta dollar AS. Terhangat tengoklah kasus Bank Century, Gayus Tambunan, Nazaruddin, Kemenakertrans, dan entah siapa menyusul lagi. Belum lagi korupsi yang terjadi di daerah-daerah.

Lalu kapankah korupsi di republik ini bisa dihentikan atau minimal dikurangi. Terlalu pagi rasanya kalau mengatakan lima atau sepuluh tahun lagi, bahkan bisa sampai mati korupsi akan tumbuh subur di negeri yang subur ini. Indikatornya bisa dilihat dari mulai jaman Orde Baru sampai Orde Reformasi ini, presiden terpilih tetap saja memberi ruang gerak kepada koruptor untuk menggerogoti uang negara, tanpa memberi hukuman yang seberat-beratnya.

Tengoklah beberapa koruptor yang kendatipun sudah memenuhi persyaratan hukum untuk ditahan, tetapi masih tetap bebas berkeliaran. Kalaupun ada yang masuk bui, itu hanya sekedar pembuktian publik bahwa pemerintah masih ada keinginan untuk memberantas korupsi. Lebih dari itu penahanan koruptor di republik ini biasanya tergantung besar kecilnya kontrak politik yang ada di baliknya.

Sebenarnya harapan korupsi bisa diberantas pernah muncul pasca terpilihnya SBY yang kedua kalinya, sesuai iklannya KATAKAN TIDAK PADA KORUPSI, tetapi realitas pemerintahannya kemudian menunjukkan kalau korupsi bukannya menurun, bahkan korupsi semakin menjadi-jadi dihampir semua kalangan masyarakat. Kalau pada jaman Orde Baru korupsi masih tersentralisasi dan terbatas dilakukan oleh orang-orang tertentu di lingkaran birokrasi, tetapi di era reformasi ini korupsi sudah terdesentralisasi dan hampir merata bisa  dilakukan oleh semua kalangan masyarakat.

Saking banyaknya uang negara yang dicuri maling-maling terhormat, sampai Kwik Kian Gie ketika masih menjabat Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas mengakaui sangat kesulitan menghitung berapa besarnya korupsi yang terjadi di berbagai daerah. Tetapi menurutnya, tidak kurang selama setahun uang negara yang dikorup mencapai Rp 306 triliun.

Sehingga tidak mengherankan ketika Biro Konsultasi Risiko Politik dan Ekonomi (PERC) yang berkedudukan di Hongkong, setiap mengeluarkan hasil surveinya selalu menempatkan Indonesia sebagai negara terkorup pertama di Asia. Menurut PERC Indonesia tetap menempati peringkat pertama negara paling korup di Asia dengan indeks korupsi 9,25. menyusul kemudian India (8,90), Vietnam (8,67), Filipina (8,33), Thailand (7,33), Malaysia (7,33), China (7,33), Korsel (6,67), Thaiwan (6,10), Hongkong (3,60), Jepang (3,50) dan terakhir Singapura (0,50).

Kita tidak perlu terkejut dalam menyikapi setiap pengumuman PERC yang menempatkan Indonesia sebagai negara utama terkorup di Asia. Karena memang dari awal pemerintahan pasca reformasi tidak memperlihatkan adanya kemauan politik untuk memberantas korupsi.

Sebagai rakyat yang sudah terlalu lama menderita akibat banyaknya penyalahgunaan uang negara, maka kita berharap menerapkan hukuman mati bagi koruptor bisa diwujudkan di Indonesia. Paling tidak untuk menuju pemilu tahun 2014, rakyat harus menjauhi politisi yang terdeteksi atau disinyalir pernah korupsi.

 

 

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.