PARTAI TERPIDANA !

Oleh : Adhie M Massardi

PARTAI Demokrat bak meteor ketika muncul pertama kali pada pemilu legislatif 2004. Meraup 7,45 persen suara, Partai Demokrat menduduki peringkat ke-5, mengungguli PAN dan PKS yang lebih dulu eksis. Dalam peroleh kursi di DPR RI, partai besutan Yudhoyono ini masuk empat besar, bersama Partai Golkar, PDIP dan PPP

Meskipun waktu itu Yudhoyono dianggap fenomenal lewat rakayasa konflik dengan Presiden Megawati yang melahirkan celotehan (Taufik Kiemas, suami Megawati) “jenderal kayak anak kecil”, tapi nyaris tak ada yang menduga Partai Demokrat bisa meraih suara sebanyak itu.

Yudhoyono sendiri, sebagai arsitek di belakang layar yang diam-diam kerap menggunakan ruang kantornya (Menko Polkam) untuk persiapan pendirian partai, tak pernah menduga partainya bisa lolos electoral threshold sehingga bisa menyalonkannya sebagai kandidat presiden RI.

Makanya, sebelum pemilu 2004 digelar, antara lain lewat Saifullah Yusuf (Wagub Jatim yang dulu Sekjen PKB) Yudhoyono berharap diusung capres oleh partainya Gus Dur.

Sejarah politik nasional kemudian menyatat rekor fantastis Partai Demokrat yang berhasil mempresidenkan Susilo Bambang Yudhoyono, cita-cita para pendirinya. Pada pemilu 2009, masih sempat meningkatkan perolehan suaranya hingga 300 persen, dan kembali mempertahankan Ketua Umum Dewan Pembina Partai Demokrat sebagai Presiden RI untuk periode kedua.

Karena menurut undang-undang Yudhoyono tak mungkin lagi jadi presiden, padahal tujuan didirikannya Partai Demokrat untuk menjadikan Yudhoyono sebagai presiden, maka partai pun kehilangan elan perjuangannya. Tak salah bila para kader partai kemudian menggantinya dengan memperjuangkan (kenikmatan dunia) mereka sendiri.

Akibatnya, bak meteor yang menarik perhatian (hanya) saat muncul meluncur di langit menyilaukan, lalu lenyap di telan kegelapan, begitulah juga Partai Demokrat. Meteor pemilu 2004 dan 2009 itu sekarang seperti sedang memasuki Black Hole, lubang hitam di alam raya yang memiliki gravitasi dahsyat, yang daya sedotnya konon melebihi kecepatan cahaya

Ketok Magic

Sebagai institusi politik, secara struktur Partai Demokrat kini memang sudah sangat menyedihkan. Sudah di ambang lubang hitam itu. Di jajaran Dewan Pembina, Yudhoyono sebagai ketua, sering disebut-sebut berada di balik skandal rekayasa bailout Bank Century. Perppu No 4 yang dia keluarkan pada 2008, menjadi kunci pembobolan brankas uang negara Rp 6,7 triliun itu. Para pemuka umat beragama bahkan sudah mengatakan rezimnya sebagai “rezim kebohongan”.

Masih di jajaran Dewan Pembina, wakilnya yang bernama Marzuki Alie, yang juga ketua DPR, dianggap orang yang paling bertanggungjawab atas munculnya anggaran bagi sejumlah kemewahan dan pemborosan yang terjadi di lembaga legislatif itu.

Masih di Dewan Pembina, Andi Mallarangeng (sekretaris) disebut-sebut terlibat skandal suap Wisma Atlet, yang pusat penyuapannya terjadi di kantornya, di Kemenegpora.

Di jajaran pengurus (DPP) ketua umum Anas Urbaningrum, juga wakilnya yang bernama Jhonny Allen Marbun, orang yang di media massa sering disebut-sebut terlibat korupsi, dan berkasnya sudah berada di KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).

Dalam struktur kesekjenan yang dipimpin Ibas, anak bungsu Yudhoyono, ada nama (wasekjen) Angelina Sondakh yang sudah resmi jadi tersangka kasus suap Wisma Atlet. Saan Mustofa baru disebut-sebut di pengadilan Tipikor. Sementara Ramadhan Pohan yang digugat menebar fitnah urung masuk bui karena Aburizal Bakrie menaruh kasihan dan menyabut pengaduannya di Mabes Polri.

Pada level bendahara, selain Nazaruddin (bendum) yang sudah lebih dulu masuk bui, segera menyusul Mirwan Amir, wakil Nazaruddin. Karena namanya sudah disebut-sebut.

Di jajaran pengurus tingkat pusat, masih ada beberapa nama, seperti Sutan Bhatoegana, yang oleh majalah Tempo digambarkan kena strum karena diduga terlibat korupsi pengadaan solar home system di Kementerian ESDM. Sedangkan ketua Divisi Komunikasi Publik Andi Nurpati masih bisa santai meskipun yang mengadukannya sebagai otak pemalsuan surat MK adalah Ketua Mahkamah Konstitusi sendiri, Mahfud MD.

Lalu, apakah dengan demikian Partai Demokrat yang seperti menjadi “partai terpidana” ini bakal kiamat? Tentu saja tidak. Sebab kita tahu, Yudhoyono adalah ahlinya recovery di negeri ini.

Tak lama setelah badai reda, paling lambat awal 2013, dia pasti akan bawa Partai Demokrat ke bengkel “ketok magic” untuk dimuluskan dan dikinclongkan kembali. Lalu ditambah dengan ramuan semacam BLT (bantuan langsung tunai) dan kebijakan populis lainnya, niscaya Partai Demokrat bakal kembali merajai pemilu 2014.

Memenangi pemilu 2014 memang harga mati bagi Partai Demokrat. Sebab kalau tidak, dan membiarkan penguasa selanjutnya bukan bagian dari mereka, negeri ini bakal jadi neraka bagi orang-orang Partai Demokrat yang namanya sudah diregistrasi di KPK.

Termasuk yang kini jadi bupati, walikota, gubernur, juga ketua atau wakil ketua DPRD di banyak daerah, yang saat ini masih tak tersentuh tangan-tangan hukum. (JPNN.COM, Sabtu 04 Februari 2012)

 

 

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.