Pemimpin Bertasbih

Pemimpin Bertasbih

 

Mereka yang mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka yang mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka yang mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka ini sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi”. (QS. Al-A’raf: 179)

Kalau Surat 7 Al-A’raf ayat 179 ini dipakai untuk melihat dan menilai perkembangan perilaku elite politik dan penguasa di Indonesia, betapa di alam demokrasi sekarang telah melahirkan pemimpin dan politisi yang tidak lagi peka hatinya melihat penderitaan rakyat kecil. Yang menutup mata terhadap semakin banyaknya kemiskinan.

Yang sudah budek telinganya terhadap tangisan rakyat kecil meskipun sudah bekerja seharian, baru cukup untuk tidak kelaparan besok harinya. Apakah mereka semua ini yang hanya gemar mengumpulkan uang, mengoleksi rumah, tanah, dan mobil, bisa disebut masuk golongan itu?

Jawabannya diserahkan kepada pembaca, tetapi yang pasti terlalu banyak pemimpin dan politisi di negeri ini pancaindranya hanya diperbudak nafsu duniawinya. Faktanya, 17 gubernur dari 33 provinsi tersangkut korupsi, dan 138 bupati/wali kota dari 497 kabupaten/kota juga tersangkut korupsi. Kata Teuku Kemal Fasya, mereka hanya sekumpulan tubuh dan pikiran yang terpilih melalui pemilu untuk kemudian menjelma menjadi komunitas eksklusif yang berorientasi pada pemuasan insting purba.

Menyikapi perilaku pemimpin dan politisi yang hanya mementingkan dirinya dan kelompoknya, serta kecenderungannya membudidayakan korupsi, maka dirasa perlu untuk terus mendiskusikan, serta mengkritisi sistem demokrasi yang telah melahirkan pemimpin dan politisi yang hidupnya penuh kepura-puraan dan kepalsuan. Pura-pura berpihak rakyat, pura-pura menegakkan hukum, bahkan celakanya pura-pura menyembah Tuhan. Rakyat dihibur dengan dagelan kepalsuan. Tengoklah janji palsu pemberantasan korupsi, surat palsu pemilu di MK, rambut palsu Gayus dan dada palsu Malinda. Itulah efek demokrasi yang menyembah kebebasan, semua bebas dipalsukan untuk memenuhi ambisi pribadi dan kelompok.

Itulah mungkin yang melatarbelakangi akademisi politik dunia Robert Dahl menegaskan, ”mengharapkan demokrasi bisa menyelesaikan semua persoalan kebangsaan merupakan suatu kebodohan”. Dan, nampaknya pemimpin bangsa ini telah menikmati dibodohi karena entah sadar atau tidak sadar telah digiring mengadopsi demokrasi liberal. Padahal, demokrasi liberal terbukti memiliki warna hitam putih yang selalu menggunakan pisau bermata dua. Bisa memakmurkan sekaligus memiskinkan, bisa mendamaikan sekaligus memproduksi koflik.

Demokrasi liberal hanya akan melahirkan pemimpin yang berpikir liberal dan bermental korup, karena terlalu banyak biaya politik yang dikeluarkan untuk mendapatkan kekuasaan.

Kalau saja pemimpin yang lahir pascareformasi mau bijak dan menentukan sikap, pada dasarnya Soekarno telah mewariskan Pancasila, Soeharto telah merumuskan demokrasi Pancasila. Bijaklah mengadopsi dan menentukan sikap untuk konsisten membangun dan mengembangkan demokrasi Pancasila yang sesuai dengan kerakter, serta budaya bangsa Indonesia. Hanya demokrasi Pancasila yang bisa mempersatukan wawasan nusantara dan mendistribusikan keadilan, serta kemakmuran yang merata kepada seluruh warga bangsa.

Karena itu, bangsa yang besar dan subur ini membutuhkan pemimpin bertasbih. Pemimpin yang meletakkan kekuasaan sebagai amanah, bukan kesempatan. Pemimpin yang menggunakan kecerdasan intelektual dan spiritual dalam merumuskan kebijakan untuk rakyatnya. Pemimpin yang ide dan pemikirannya jauh ke depan untuk membangun bangsanya. Pemimpin yang mampu merumuskan visinya dan mencapainya melalui misi pemberdayaan potensi rakyatnya. Pemimpin yang kata dan perbuatannya sinergis, pemimpin yang tidak mengedepankan politik pencitraan, pemimpin yang tidak suka mengeluh hanya karena persoalan SMS.

Untuk mendapatkan pemimpin bertasbih yang amanah, jangan pernah mencari pada saat musim kampanye pemilu. Ada dua alasan yang bisa dijadikan pembenar warning ini. Pertama, karena pada saat musim kampanye pemilu yang akan muncul di atas panggung demokrasi bukan pemimpin visioner, tetapi para bunglon yang gemar menjual kecap dengan mengandalkan kecerdasan memanipulasi. Kedua, karena politikus jelangkung banyak bergentayangan di musim pemilu.

Politikus instan yang secara tiba-tiba muncul mengagetkan karena pobia demokrasi laksana permainan jelangkung; datang tidak diundang pergi tidak diantar. Karena itu, politikus jelangkung harus diwaspadai pergerakannya, karena kalau menjadi pemenang bisa mereinkarnasi dirinya menjadi manusia-manusia serigala yang tega menerkam, dan memangsa rakyatnya dengan cara merampok uang negara.

Jadi kepada rezim ini, manfaatkanlah sisa umurnya yang tinggal tiga tahun lagi untuk segera bertasbih melalui kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada rakyat. Hentikanlah kegemarannya membangun industri kebohongan dan kepalsuan, karena filsuf Perancis abad ke-14 Nicholas de Frand sudah mewanti-wanti bahwa, ”Membangun negara dengan penuh kepalsuan dan kebohongan adalah laknat bagi peradaban masa depan negeri.”

Rakyat sebagai pemilik hak kedaulatan tertinggi di alam demokrasi, sudah menyadari betul bahwa pemimpin dan politisi hanya merangkul, membelai dan menyayangi kami (rakyat kecil) ketika menjelang pemilu, dan membuang kami setelah sukses di singgasananya. Menyadari betul bahwa hari-hari kemarin sudah terlalu banyak kebohongan, kepalsuan dan manipulasi yang dilakukan para pemimpin dan politisi negeri ini untuk mendapatkan dan menjalankan kekuasaannya.

Jadilah pemimpin dan politisi yang senantiasa bertasbih untuk kepentingan rakyat, sehingga tidak termasuk golongan yang lebih rendah dari binatang ternak, seperti yang dimaksud dalam surat  Al-A’raf  ayat 197 di atas. Insya Allah, Sumatera Barat yang berkarakter religius akan selalu melahirkan pemimpin yang bertasbih untuk menyelamatkan negeri yang subur ini dari ancaman manusia serigala.

(Ruslan Ismail Mage : Direktur Eksekutif SIPIL INSTITUT)

(*)TERAS UTAMA Padang Ekspres • Sabtu, 22/10/2011

 

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.