PEMIMPIN MENANGIS

PEMIMPIN MENANGIS

Ruslan Ismail Mage

(Direktur Ekseketif SIPIL INSTITUT)

Di dunia pendidikan kita mengenal pepatah klasik yang mengatakan “kalau guru kencing beridri maka murid kencing berlari”. Kalau pemimpin menangis maka rakyat sebaiknya bagaimana? Suatu pertanyaan yang sepele tetapi harus bijak untuk menjawabnya, karena sejatinya pemimpin jangankan menanngis, memperlihatkan wajah sedih saja di depan publik tidak etis. Itulah pemimpin harus memiliki keteguhan (confident) dan mampu menyelesaikan tugas berat yang diamanahkan. Ada yang mengilustrasikan “pemimpin sebagai orang yang berselimut” sebagai ekspresi adanya rasa takut, karena siapa pun akan takut ketika mendapat tugas besar dan tanggung jawab berat.

Susahnya menjalankan tugas besar dan tanggung jawab berat sebagai seorang pemimpin kembali mendapat justivikasi, ketika seorang Gubernur menangis di depan ratusan pejabat dan para undangan lainnya saat berpidato di podium. Saya merasa menjadi gubernur itu ga enak. Ke depan siapa yang mau menjadi gunernur silahkan saja. Saya cukup menjabat lima tahun saja, kata sang gubernur.

Air mata sang gubernur sebagai ekspresi ketidakmampuannya menghadapi tekanan dari delapan penjuru mata angin, menjadi menarik dan penting untuk dianalisa secara akademik. Dikatakan menarik, karena kalau litaratur manajemen mau dipakai untuk memaknai tangisan sang gubernur, maka bisa dikatakan bahwa untuk menjadi politisi yang hebat harus memiliki dua hal, yaitu memahami teknik manajerial dan memiliki jiwa kepemimpinan. Dikatakan penting, karena politisi yang memahami teknik manajerial akan selalu berusaha melakukan efektifitas dan efesiensi untuk menciptakan tangga menuju kesejahteraan rakyatnya. Sementara politisi yang memiliki jiwa kepemimpinan akan selalu berusaha memastikan bahwa tangga untuk menuju kesjahteraan rakyatnya telah bersandar pada dinding yang tepat.

Kalau dua hal ini mau di pakai untuk memaknai kerakter sang pemimpin yang terlanjur berkeluh kesah menangis di depan publik, maka dapat dianalisa bahwa kerakter sang gubernur lebih memahami dan menggunakan teknik manajerial mengelola daerahnya tanpa diimbangi oleh jiwa kepemimpinan yang kuat.

Seorang manajer harus mengefektifkan waktu dan mengefesienkan segala sumber daya untuk berbagi tugas dengan wakilnya dan dinas terkait dalam mempercepat pembangunan daerahnya. Dalam perspektif manajemen sikap ini tepat, karena logikanya hanya pemimpin yang berpikir jauh yang bisa berlari jauh membangun daerahnya meninggalkan keterbelakangan.

Ada kisah nyata seorang manusia minimalis (serba kekurangan) tetapi berpikir jauh melampaui ruangnya yang menarik untuk direnungi. Mr Lim yang sudah tua dan bekerja hanya sebagai door checker (memeriksa engsel pintu kamar hotel) di sebuah hotel berbintang lima di Singapura. Puluhan tahun ia jalankan pekerjaan membosankan itu dengan sungguh-sungguh, tekun, dan sebaik-baiknya.

Ketika ditanya apakah ia tak bosan dengan pekerjaan menjemukan itu. Mr Lim mengatakan, yang bertanya adalah orang yang tidak mengerti tugasnya. Bagi Mr Lim, tugas utamanya bukanlah memeriksa engsel pintu, tetapi memastikan keselamatan dan menjaga nyawa para tamu hotel. Mayoritas tamu hotelnya adalah manajer senior dan top manajemen. Jika terjadi kebakaran dan ada engsel pintu yang macet, nyawa seorang manajer senior taruhannya. Demikian jauh pikirannya Mr Lim, yang selalu ingin memastikan semua tamu hotelnya selamat jika ada bencana kebakaran. Mr Lim bukan tipe pekerja yang memetingkan job description, dan target kerja  (key performance indicator), tetapi bekerja dengan memberikan nilai-nilai mulia, unggul, berguna bagi orang banyak ke depan (key values indicator).

Bangsa ini terlalu luas dengan jumlah penduduk nomor lima terbanyak di dunia, sehingga membutuhkan pemimpin yang tegas menjaga eksistensi negara, cerdas mengelola segala sumber daya, dan berwibawa meladeni tamu dari luar. Bukan pemimpin yang gampang mengeluh apalagi sampai menangis.

Keluhan atau tangisan itu akan mengalirkan energi negatif ke rakyat yang kemudian memproduksi sikap pesimisme dan apriori ditengah ekpektasi yang begitu tinggi kepada pemimpimnya untuk menopang tangga menuju kesejahteraan. Dalam literatur ilmu fsikologi, air mata selalu teridentivikasi sebagai simbol kelemahan dan kerapuhan. Kalau ini benar, maka salahkah ketika dijus bahwa sang gubernur bukanlah dinding yang tepat untuk meyandarkan tangga menuju kesejahteraan rakyatnya. Mudah-mudahan alasan kedua ini lebih banyak mengandung nilai-nilai kesalahan daripada kebenaran, agar rakyat tidak salah tetap membangun harapan ke depan.

Singkatnya, kalau mau merasa enak jadilah pengusaha yang bebas berinprovisasi dalam mengembangkan usahanya. Bebas mengatur waktu bertemu dan bersendagurau bersama dengan keluarga, sahabat dan handai tolang tanpa aturan protokoler yang ketat. Kalau tidak mau mendapat serangan atau tekanan, jangan menjadi pemimpin. karena dipastikan tugasnya berat, tanggungjawabnya besar, dan pasti akan selalu menjadi sasaran keritikan.

Ingat! Politisi boleh bohong tetapi tidak boleh salah. Curhat, berkeluh kesah, terlebih menangis di depan publik, adalah tindakan yang salah. Dalam litarurtur komunikasi politik, pemimpin tidak boleh memperlihatkan kelemahannya sekecil apa pun kepada rakyatnya, baik menggunakan komunikasi verbal maupun non-verbal. Kalau pemimpin menangis, kepada siapa rakyat menyandarkan tanggga menuju kesejahteraan.

 

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.