Pemimpin Visioner

Pemimpin Visioner

Oleh : Ruslan Ismail Mage

Penulis Buku Strategi Investasi Politik Dalam Pasar Demokrasi

 

Salah satu kelebihan sistem demokasi dibanding sistem politik lainnya adalah bisa melahirkan pemimpin berkualitas dan visioner yang akan malampaui ruang dan waktu kelahirannya. Ini memungkinkan, karena hanya demokrasi menjamin kebebasan setiap individu memasuki arena politik. Dikatakan melampaui ruang, karena kebinekaan republik ini mengharuskan memilih pemimpin tanpa melihat sekat-sekat suku, bahasa dan budayanya, tetapi yang memiliki komitmen kebangsaan dibawah sumpah pemuda, mempunyai kemampuan menjahit baju kebangsaan yang semakin rapuh tercabit-cabit kepentingan sesaat. Dikatakan melampaui waktu, karena pemimpin visioner tidak selalu tergantung umur tuan atau muda. Sebagaimana kematangan berpikir dan kedewasaan bersikap seseorang tidak ditentukan oleh umurnya.

Terlalu banyak data sejarah yang bisa dijadikan bahan acuan untuk membenarkan konsep ini. Terlalu banyak realitas kehidupan sehari-hari yang seharusnya menyadarkan kita kalau kualitas seorang pemimpin tidak ditentuan oleh segala atribut yang melekat pada dirinya. Terlalu banyak pemimpin sekarang yang sudah berumur tua tetapi tidak visioner. Visi kepemimpinanya hanya bersipat temporer kondisioner berdasarkan kepentingan lima tahunan. Terlalu banyak juga data sejarah yang bersaksi kalau republik ini tidak pernah kekeringan calon pemimpin muda yang visioner.

Pemimpin visioner yang dimaksud dalam tulisan ini adalah “pemimpin yang memiliki visi jauh kedepan melampaui masanya”. Bekerja untuk kemakmuran bangsanya ke depan, bukan untuk kepentingan sesaat diri sendiri dan kelompoknya. Dalam lembaran sejarah, tercatat dengan tinta emas contoh pemimpin visioner yang pernah dimiliki oleh republik ini. Sebut misalnya Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, dan beberapa bung-bung yang lainnya. Mereka semua mengeluarkan keringat bahkan darah untuk menggali pondasi tempat berdirinya bangunan rumah besar yang bernama Indonesia merdeka. Harapan mereka hanya satu, mewariskan rumah yang kokoh kepada anak cucunya kelak. Ada tempat berlindung dari panasnya sinar matahari, ada tempat berteduh ketika hujan badai melanda. Anak cucunya dapat hidup sehat duduk berdampingan, bergadengan tangan, tumbuh kembang menata masa depannya penuh warna-warni budaya.

Pemimpin visioner tidak instant. Ia tidak lahir sebelum waktunya sebagaimana bayi prematur. Sejak kelahirannya hidup dalam lingkungan sosial yang rapuh, sehingga untuk tetap hidup harus memiliki mental yang kuat dan berjiwa pejuang. Tidak lahir dari lingkungan karbitan, tidak disiapkan apalagi ditunjuk, tetapi mempersiapkan diri secara sistematis setelah melewati proses kematangan. Ia tidak dituntun tetapi dilepas mengembara mencari kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritualnya. Tiga kecerdasan ini penting, karena hanya pemimpin yang memiliki tiga kecerdasan ini yang bisa melahirkan kebijakan yang berpihak kepada rakyat.

Bung Karno dan angkatannya, adalah aktivis dan pemimpin organisasi kepemudaan yang ditempah oleh lingkungan sosial yang dikoptasi (dikurung) oleh bangsa asing. Ia harus terus menggeliat kepermukaan untuk menyebarkan virus “perasaan kolektivitas sosial”. Sejenis perasaan yang memiliki nasib dan tanggung jawab serta nilai-nilai moral yang sama untuk selalu bersatu berjuang melepaskan diri dari penjajah bangsa asing.

Kondisi lingkungan sosial, ekonomi dan politik yang melahirkan pemimpin visioner era Bung Karno, serupa tetapi tidak sama dengan kondisi lingkungan sosial, ekonomi dan politik bangsa sekarang. Dikatakan serupa, karena  sama-sama dijajah atau ditekan oleh suatu kekuatan besar yang menginginkan republik ini tidak berdiri kokoh, bahkan kalau perlu hilang dari peta dunia. Dikatakan tidak sama, karena jaman Bung Karno semua dimensi dijajah oleh bangsa asing, tetapi sekarang yang dijajah hanya ekonomi kita oleh kapitalisme global berselingkuh kapitalisme lokal dan sebagian elite politik.

Dari lingkungan sosial, ekonomi dan politik yang tertekan ini, mestinya republik bugar ini melahirkan kembali pemimpin visioner yang mampu membangun pondasi ekonomi dan politik yang kuat. Pondasi ekonomi yang kuat diperlukan untuk menahan liberalisme ekonomi yang terbukti hanya akan menghancurkan ketanahan pangan kita, sementara pondasi politik yang kuat dibutuhkan sebagai perisai menangkis serangan ideologi dari luar yang berpotensi merusak keutuhan negara kesatuan.

Entah apa yang terjadi di rupublik ini, tetapi yang pastih di usia reformasi yang sudah memasuki tahun kesepuluh, belum ada tanda-tanda muculnya pemimpin vesioner yang bisa menyelamatkan bangsa ini. Bahkan yang muncul adalah benih-benih pemimpin pragmatis yang mengadopsi lagu pramuka (di sini senang, di sana senang, di mana-mana senang) tanpa mau melihat penderitaan rakyat, yang kendatipun sudah bekerja keras seharian baru cukup untuk tidak kelaparan esok harinya. Menyedihkan memang, tetapi itulah realitas sosial, ekonomi, politik di republik ini.

Pertanyaan kemudian yang menarik dikedepankan jelang pemilu 2014 adalah “apakah pemilu 2014 bisa melahirkan pemimpin visioner”. Pemimpin yang seluruh panca inderanya bertasbih untuk kepentingan rakyat, pemimpin yang percaya diri mengelola sumber daya alam bangsa tanpa ditekan bangsa asing, pemimpin yang berani menasionalisasi aset srategis negara (minyak, gas dan tambang), pemimpin yang tidak pernah akan menggadaikan bangsanya. Masih ada waktu tersisa satu bulan bagi rakyat untuk mencari jawaban pertanyaan ini dengan memilah-milah partai politik dan memilih-memilih politisi yang bisa masuk kategori pemimpin visioner.

Namun sebagai acuan awal, kalau mau mencari pemimpin visioner hanya pada waktu kampanye partai politik, maka secara teoritis itu tidak pernah akan bisa. Pemimpin visioner tidak lahir pada saaat kamanye partai politik, karena keberadaanya tidak bersifat temporer dan kondisioner. Pemimpin visioner selalu muncul pada saat bangsa dalam kondisi apapun, terlebih ketika bangsa dilanda berbagai krisis. Karena itu, kalau mau mencari pemimpin visioner jangan lewat foto-foto yang banyak diobral di pinggir jalan, jangan terpaku pada saat kampanye partai politik atau lewat iklan politik, karena bahasa kampanye (iklan) adalah bahasa politik, perilaku kampanye adalah perilaku politik, yang tingkat kebenarannya teramat sangat meragukan (bohongisme).

Untuk mencari pemimpin visioner gunakan dua pendekatan. Pertama, pendekatan sejarah bangsa dan kecenderungan pemimpin global. Sejarah bangsa bisa menjelaskan bahwa pemimpin visioner era Soekarno-Hatta berasal dari kaum muda yang berpikiran progresif untuk menyelamatkan bangsanya. Kemudian kecenderungan pemimpin global saat ini juga mengarah kepada pemimpin muda dengan munculnya Barack Obama (47) di Amerika Serikat dan Medvedev (44) di Rusia. Kedua, gunakan pendekatan tiga dimensi waktu, masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Putar memori hitam-putih masa lalunya, korek semua aktivitasnya masa sekarang (track record), bedah visi misi kedepanya dalam menyelamatkan bangsa dan tingkat keberpihakannya kepada rakyat.

Sejatinya adalah kerisis besar melahirkan pemimpin besar (maaf bukan besar tabungannya, besar rumahnya atau besar perutnya), tetapi besar gagasan dan karya nyatanya untuk memakmurkan daerah atau bangsa melalui kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada rakyat kecil.

 

 

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.