PoliTIKUS dilanda DBD

PoliTIKUS dilanda DBD

Ruslan Ismail Mage (Direktur Eksekutif SIPIL INSTITUT)

 

Waspadalah DBD! Musim hujan telah datang. Warning ini penting, karena musim hujan selalu berbanding lurus dengan kedatangan wabah DBD. Semakin tinggi volume hujan semakin tinggi pula serangan wabah DBD (Demam Berdarah Dengue) yang ditularkan nyamuk aides aegipty. Walaupun dapat dideteksi munculnya bersamaan dengan musim hujan, tetapi tetap saja selalu memakan korban. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa, dari si miskin sampai si kaya diserang semua tanpa kompromi.

Kalau serangan wabah DBD yang ditularkan nyamuk aides ini muncul pada musim hujan dan tidak mengenal kompromi, maka wabah DBD yang satu ini justru muncul pada musim pemilu legislatif, pilres, serta pilkada, dan cerdas memilih-milih orang yang mau diserang. Ia selalu bergerak tak berwujud dan hanya menyerang para poliTIKUS, baik yang busuk maupun yang mangaku dirinya bersih. Bisa jadi wabah DBD yang satu ini melihat para poliTIKUS tidak ada yang bisa dipercaya lagi, kurang bermoral, dan hanya memetingkan dirinya sendiri, sehingga bisa dijadikan tempat bersarang untuk berkembangbiak. (Bisa jadi poliTIKUS di repubik ini hanya memiliki satu kemampuan, yaitu kemampuan membohongi rakyat)

Tidak percaya! Lihatlah para poliTIKUS setiap musim pemilu legislatif, pilpres, atau plkadaka di gelar, pasti semua terserang penyakit DBD (Demen Berburuh Djabatan) dengan menghalalkan segala macam cara. Fenomena wabah DBD ini mulai menggila pasca reformasi, bersamaan dengan proses redemokratisasi di republik ini yang memberi ruang gerak kepada setiap orang untuk memasuki wilayah politik.

Ada beberapa alasan kenapa hampir semua poliTIKUS di republik ini terserang wabah DBD. Pertama, Indonesia adalah negara dalam proses transisi demokrasi yang memungkinkan seorang pengangguran, pemalsu ijasah menjadi anggota dewan terhormat, bahkan  memberi peluang kepada terpidana sekalipun untuk menjadi presiden. Kedua, Indonesia adalah surga bagi pemimpin yang berjiwa koruptor. Ketiga, Indonesia adalah negeri 1001 maling, mulai maling sandal jepit, maling kambing, sampai maling triliunan rupiah ada semua bercokol di jamrud khatulistiwa ini. Keempat, penegak hukum di republik ini hampir semua bermata sendu (senang  duit). Pelanggaran hukum para poliTIKUS bisa diselesaikan di bawah meja kalau ada uang pelican.

Gejala awal DBD ini dapat dilihat di pangung politik setiap musim kampanye partai politik. Misalnya, poliTIKUS hanya gemar memberi janji-janji palsu, membagikan nasi bungkus dan baju kaos, menghambur-hamburkan uang membayar iklan di media massa yang manipulatif, gencar mengiklankan diri sebagai orang yang serba mampu mengatasi masalah yang melanda bangsa, sadar melanggar aturan kampanye yang telah disekapakati, menggunakan fasilitas negara dalam proses kampanye, dan yang lebih menggelikan lagi memalsukan ijasah untuk berburu jabatan.

Gejala lain adalah seringnya para poliTIKUS saling mencemooh, saling menyalahkan, saling menyerang, dan saling menjelek-jelekkan di atas panggung kampanye, tanpa memberi solusi cerdas bagaimana memberi jalan keluar krisis yang melanda republik ini. Semua itu dilakukan dengan hanya satu tujuan, mengejar jabatan dalam lingkaran syetan kekuasaan.

Dalam menyikapi merajalelanya poliTIKUS yang terinveksi virus DBD ini, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh rakyat. Pertama, rakyat harus menjadi pemilih yang kalkulatif. Maksudnya rakyat harus pintar mengkalkulasi untung ruginya memilih salah satu partai politik atau memilih wakilnya di parlemen. Kedua, jangan mudah tergoda atau percaya bahasa kampanye, karena bahasa kampanye adalah bahasa politik yang menganut paham bohongisme, tetapi lihatlah moralitasnya sebelum dan sesudah kampanye. Ketiga, jangan gampang terpegaruh gencarnya iklan politik yang sifatnya manipulatif. Keempat, lihat program partai yang realistis sehingga benar-benar bisa diwujudkan ketika terpilih. Kelima, jangan pernah terpengaruh dengan money politics. Keenam, jangan melakukan kesalahan dua kali memilih partai atau poliTIKUS yang sudah pernah berkuasa tetapi hanya memetingkan jabatan tanpa berpihak kepada rakyat kecil. Ketuju, wajibkan para caleg melakukan kontrak politik di depan notaris, kalau tidak mau itu berarti sudah terjangkit virus DBD dan segera singkirkan.

Karena masa depan negara dipertaruhkan dalam pemilu 2014 nanti, maka rakyat jangan pernah mau dibohongi lagi oleh poliTIKUS yang hanya Demen Berburuh Djabatan. Terlebih realitas sepanjang sejarah menunjukkan kalau poliTIKUS seperti itu, kerjaannya hanya memanfaatkan kesempatan memperkaya diri sendiri dan kelompoknya dengan mengorbankan rakyat. Lebih menyedihkan lagi poliTIKUS yang terjangkit virus DBD tidak ragu-ragu menggadaikan negaranya kepada kapitalisme global untuk mencari keuntungan sendiri dan kelompoknya.

Artinya wabah demam berderah (DBD) yang menyerang masyarakat selama ini, serupa tapi tidak sama dengan wabah DBD yang melanda para poliTIKUS. Dikatakan serupa karena sama-sama bisa memakan korban, sementara dikatakan tidak sama karena wabah DBD yang melanda poliTIKUS kalau tidak dicegah sedini mungkin bisa mematikan sebuah bangsa.

Wabah DBD yang satu ini terbukti lebih membahayakan, karena tidak ada resep obatnya, tidak ada yang bisa mencegah penyebarannya selain keimanan dan moralitas poliTIKUS itu sendiri. Persoalannya kemudian, mencari calon pemimpin yang benar-benar beriman dan bermoral di republik ini, sama susahnya kalau mencari jarum dalam tumpukan jerami. Karena itu apa pun alasannya, kita harus berusaha menghindari poliTIKUS yang sudah terjagkit wabah DBD kalau tidak mau bangsa besar ini dijual kepada kapitalisme global, yang kemudian hilang dari peta dunia.  

 

 

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.