Politisi Spanduk

Ruslan Ismail Mage (Direktur Eksekutif Sipil Institut)

Dalam beberapa perdebatan tentang demokrasi, tidak jarang mengemuka bahwa “demokrasi bukanlah terbaik dari semua sistem pemerintahan yang ada sepanjang sejarah, tetapi demokrasi merupakan yang buruk dari yang terburuk”. Maksudnya karena tidak ada lagi yang lebih sedikit buruknya dari demokrasi, maka serta-merta demokrasi menjadi inspirasi bagi penghayal kebebasan untuk diperjuangkan.

konsultan politik

Itulah filosofi dasar demokrasi yang menempatkan kebebasan sebagai harga mutlak yang harus disebar ke setiap sudut dan ruang kehidupan rakyat. Karena itu, negara yang baru saja melakukan redemokratisasi (hijerah bentuk pemerintahan dari sistem otoriterianisme ke sistem demokrasi) pasti rakyatnya mengalami euforia demokrasi (memanfaatkan kebebasan berlebih setelah terkunkung cukup lama).

Pasca reformasi euforia demokrasi yang berlebihan dan cenderung tidak terkendali dalam eskalasi pasar demokrasi Indonesia menjadi penyebab awal munculnya infalasi politisi setiap jelang pemilu. Data menunjukkan 20.257 kursi parlemen yang tersedia diseluruh Indonesia pada Pemilu 2014 akan diperebutkan minimal 240.000 orang (umumnya politisi dadakan). Inflasi politisi yang kemudian mengabaikan sistem meritokrasi dalam penempatan jabatan-jabatan politik berimplikasi pada amburadulnya sistem tata kelola pemerintahan dan negara

Entah sependapat atau tidak, politisi dadakan ini saya coba identifikasi sebagai “Politisi Spanduk” (politisi yang mengabaikan hukum proses dengan mengandalkan elektabilitasnya pada spanduk). Ia muncul tiba-tiba karena didukung oleh faktor modal sendiri atau gabungan modal dari komunitas tertentu tanpa memiliki jaringan-jaringan sosial di tengah masyarakat. Politisi apanduk ini mencoba memanfaatkan euforia demokrasi untuk ikut bertarung dalam perebutan kekuasaan dengan harapan suara rakyat dapat diarahkan.

Untuk mengkatrol popularitasnya, politisi spanduk ini biasanya tidak segang-segang menghamburkan uang ke dalam pasar demokrasi. Dengan setumpuk modal yang dimiliki ia sanggup membangunkan orang tidur sekalipun untuk menatap gambar dan foto dirinya di media elektronik dan media cetak. Hampir semua ruang publik dan waktu bisa dibeli untuk menyapa rakyat secara dadakan. Spanduk tergantung di setiap sudut kota untuk memproklamirkan dirinya sebagai orang yang lebih baik dibanding orang lainnya. Baliho ukuran raksasa bergambar dirinya menebar janji dan harapan ditancapkan dihampir setiap perempatan jalan. Brosur disebar ke pasar-pasar tradisional, warung kopi, kedai, dan tempat-tempat komunitas lainnya. Pohon-pohon di pinggir jalan disulap menjadi galeri tempat menempel foto-foto dirinya. Baju kaos bergambar dirinya sebagai pemimpin masa depan dibagikan gratis, dan masih banyak lainnya yang tiba-tiba serba gratis.

Dalam literatur ilmu politik, teori kepura-puraan Machiavelli bisa dipakai untuk menyikapi bergentayangannya politisi spanduk menjelang digelarnya pasar demokrasi terbesar republik ini pada Pemilu 2014. Kata Machiavelli, setiap penguasa (politisi) harus pintar “hidup dalam kepura-puraan”. Pura-pura empati, bermoral, sopan, santun, bersih, dan berbudi luhur. Tiba-tiba murah senyum menebar pesona, tiba-tiba berbudi luhur menyapa setiap tetangga, tiba-tiba empati suka menyumbang, tiba-tiba menyantuni anak yatim piatu, dan banyak lagi serba tiba-tiba yang membuat rakyat terkesima memandang sosoknya.

Dengan uang, politisi spanduk bisa saja terus membangun popularitasnya, tetapi karena sifatnya dadakan maka tidak pernah bisa menjadi idola. Karena untuk menjadi idola dihati rakyat tidak bisa instant, butuh waktu relatif lama untuk melahirkan pemikiran cemerlang dan karya-karya nyata. Disinilah kelemahan dasar politisi spanduk, ia tidak menyadari kalau menjadi populer berbeda menjadi idola. Populer belum tentu menjadi idola, sementara idola sudah pasti menjadi populer.

Perkembangan industri politik sekarang menunjukkan adanya pergeseran perilaku pemilih di pasar demokrasi yang lebih mencari tokoh idola (merakyat) bukan sekedar popularitas. Hal ini disebabkan, karena antara idola dan popularitas punya selisih harga. Secara sosiologis, seorang idola sudah pasti mempunyai nilai lebih atau daya tarik tersendiri. Seorang idola, sudah pasti mempunyai banyak pengikut (penggemar) yang mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh idolanya. Sementara orang populer belum tentu ada pengikut (penggemar), karena membunuh, merampok, memperkosa, koruptor, menang undian satu milliar bisa juga menjadi populer.

Seorang Eyang Subur tiba-tiba menjadi sangat populer karena disinyalir gemar mengambil isteri pengikut alirannya. Begitu pula Ahmad Fathona menjadi buah bibir di wilayah publik karena kegemarannya memberi hadiah kepada wanita-wanita cantik. Popularitas Angelina Sondakh dan Mindo Rosalina Manulang juga selangit karena terlibat mega skandal korupsi. Keempatnya menjadi sangat populer namanya dan familiar wajahnya, tetapi tidak pernah akan menjadi idola.

Untuk menyikapi munculnya berbagai kerakter politisi spanduk yang menjual kecap di pasar demokrasi, maka rakyat sebagai konsumen produk keputusan politik  harus menjadi pemilih kalkulatif. Pemilih yang bisa mengkalkulasi untung ruginya memilih seorang politisi, baik yang akan duduk di lembaga legislatif maupun politisi yang masuk bursa Pilkada dan Pilpres. Rakyat jangan terkecoh lagi dengan politik pencitraan yang menganut paham bohongisme. Sekali salah memilih politisi/partai politik, maka sistim ketatanegaraan kita mengharuskan menunggu lagi lima tahun untuk melakukan perobahan.

Karena itu, kita perlu mendengarkan pesan Bang Napi “waspadalah-waspadalah-waspadalah” dalam menentukan pilihan. Pesan bijak ini perlu dimaknai, karena sekarang masanya politisi memakai topeng menyembunyikan wajah aslinya. Ibarat mau menantu, para politisi spanduk rajin pergi ke salon-salon kecantikan sebagai persiapan datang melamar rakyat. Begitulah nasib rakyat, hanya disayang, dibelai, dipeluk, digendong dan ditimang-timang pada waktu kampanye. Setelah itu rakyat kembali dilupakan, dibohongi, dibodohi, ditindas, dan bahkan dijajah lagi. Lalu apakah rakyat ditakdirkan lahir untuk dibohongi?

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.