Reformasi Hamil Tua

Reformasi Hamil Tua

Ruslan Ismail Mage (Direktur Eksekutif Sipil Institut)

Seringnya presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan mengeluh dan curhat di depan rakyatnya, memaksa saya harus melakukan pengembaraan litaratur lagi untuk mencari teori kepemimpinan yang mendukungnya. Dari beberapa buku kepemimpinan yang ada, tidak ditemukan satu teori yang membenarkan seorang pemimpin diperbolehkan mengeluh di depan rakyatnya. Jangankan mengeluh dengan menggunakan bahasa verbal, bahasa non verbal pun tidak etis, misalnya memperlihatkan wajah sedih sekali pun tidak dibenarkan. Terlebih dalam situasi negara yang tidak menentu masa depannya.

Sederhana alasannya kenapa seorang pemimpin tidah dibenarkan mengeluh di depan rakyatnya, karena kalau pemimpin mengeluh maka kepada siapa rakyat berharap memperbaiki nasibnya yang hapir punah. Seorang pemimpin harus menjadi dinding yang kuat tempat bersandarnya tangga menuju kemakmuran rakyatnya, atau jangan-jangan rakyat telah menyandarkah tangga kesejahteraannya pada dinding yang rapuh.

Ancaman terbesar bangsa ini bukan datang dari serbuan kapitalisme global yang sadis merampok kekayaan alam negeri ini, bukan juga dari ancama kerisis ekonomi global, tetapi ancaman krisis kepemimpinan. Karena sebesar apa pun krisis melanda negeri selalu ada peluang menjadi negara besar kalau memiliki pemimpin yang kuat dan cerdas mengelola segala sumber daya yang dimiliki bangsanya.

Persoalannya kemudian, reformasi bangsa ini sedang dilanda hamil tua dengan muntah-muntah politik pencitraan. Ini kemudian memicu merebaknya wabah krisis kepemimpinan yang masif di setiap sendi kehidupan berbangsa. Kondisi reformasi yang hamil tua ini diperkirakan akan melahirkan bayi-bayi serem yang bernama kekecewaan, keputusasaan, frustasi, apatisme, radikalisme, dan bahkan refolusi.

Indonesia pun hadir bagaikan lukisan David Osbourne dan Ted Goebler, yaitu sedang mengalami kehancuran dari dalam dan terus mengalami pembusukan di berbagai aspek hingga menjerumuskan bangsa ke dalam jurang dekadensi moral yang sangat parah. Suburnya kasus suap dan terus menyebarnya wabah korupsi, politik uang, dan tidak becusnya hukum serta mencuatnya aneka aksi anarkis berwatak premanisme adalah sejumlah indikasinya.

Jadi benar apa kata Bung Hatta tahun 1960 bahwa, “Suatu masa dilahirkan abad, tetapi masa besar menemukan manusia kecil”. Mungkin maksudnya kecil solusi pemecahan masalah negeri yang besar ini, atau mungkin kalau dijabarkan lebih jauh pernyataan Bung Hatta tersebut dalam konteks kekinian Indonesia, bahwa negara besar seperti Indonesia sejatinya jangan dipimpin oleh orang yang miskin solusi pemecahan masalah yang dihadapi negerinya. Atau lebih spesifiknya jangan defisit anggaran APBN akibat melonjaknya harga minyak dunia selalu solusinya membebankan ke rakyat dengan menaikkan harga BBM. Bukankah masih ada alternatif lain yang bisa dilakukan.

Sudah beberapa orang pemerhati negerinya menyebut bangsa ini sudah mendekati negara gagal. Negara gagal adalah negara yang tidak mampu lagi menjalankan fungsi positive measures-nya, yaitu menegakkan stabilitas nasional, ketertiban sosial, serta merealisasikan pemenuhan fungsi-fungsi pelayanan publik pada semua aspek kehidupan berbangsa.

Nah di tengah amburadulnya hampir semua pelayanan publik negeri inilah ditambah tingkat kejenuhan rakyat melihat presidennya yang sering curhat dan mengeluh, tiba-tiba seorang Dahlan Iskan yang selalu identik dengan sepatu karetnya muncul memberi harapan lahirnya pemimpin yang amanah. Pemimpin yang tidak terlalu menyukai duduk di singgasananya mengumpulkan pembatunya untuk rapat dan rapat lagi baru mendirikan satgas tanpa implementasi di lapangan. Pemimpin yang miskin penampilan tapi kaya terobosan, pelit bicara tapi royal berbuat nyata.

Sebagai pemimpin ia selalu turun ke bawah melihat realisasi intruksinya. Kasus di pintu tol Semanggi yang selalu cepat bertindak menengahi kebuntuan mungkin isyarat alam kalau negeri ini butuh kepemimpinan seperti Dahlan Iskan. Tindakannya yang turun dari mobil membuka pintu tol untuk menggratiskan 30 mobil lawat adalah tindakan spontanitas tanpa target-target politik lainya. Karena memang sejatinya seorang pemimpin harus ihlas berbuat tanpa ada kepentingan-kepentingan lainnya, selain kepentingan rakyatnya.

Bukan kali ini saja, Dahlan Iskan membuat gebrakan. Waktu menjadi Direktur Utama PLN ia membuktikan pemenuhan kebutuhan listri rakyat dengan membangun jaringan listrik sampai ke pelosok daerah.  Sebagai Menteri BUMN, ia kerap melakukan terobosan demi meningkatkan kualitas pelayanan kepada publik. Untuk mengecek secara langsung layanan PT KAI, misalnya, ia beberapa kali naik kereta rel listrik (KRL) kelas ekonomi dari Stasiun Depok menuju Istana Negara untuk rapat kabinet.

Teringat jadinya pendapat Bung Karno yang mengatakan “Beri aku sepuluh pemuda dan aku akan memindahkan gunung semeru”. Ungkapan ini mengandung energi luar biasa dahsyat untuk meyakinkan rakyatnya bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang bisa mandiri secara ekonomi, dihormati secara politik, dan dihargai secara budaya, kalau segala potensi yang ada di dalamnya dikelola dengan baik.

Kalau ungkapan Bung Karno ini dipakai untuk membedah kehidupan sosial, politik dan ekonomi bangsa Indonsia saat ini, maka mungkin kita sepakat kalau mengatakan Beri  aku 10 Dahlan dan aku akan menggoncangka dunia. Karena pada dasarnya semua persyaratan untuk menjadi bangsa besar dan terhormat sudah dimiliki negeri ini.

Kalau Emha Ainun Najib (Cak Nur) mengatakan masalah Indonesia tidak bisa lagi diselesaikan seorang manusia biasa dan membutuhkan manusia setengah nabi untuk menyelamatkan Indonesia dari  kehancuran, maka menurut saya carut marut masalah negeri ini masih bisa diselesaikan kalau ada 10 orang yang memiliki sifat dan keratkter kepemimpinanya seperti Dahlan Iskan.

Semoga benar kata filosof bahwa setiap jaman akan melahirkan pemimpinnya, dan isyarat alam sudah mulai nampak, kalau dibalik awan gelap yang menutupi langit politik Indonesia, masih ada seberkas cahaya harapan ketika sinar kepemimpinan seorang Yusuf Kalla belum padam, kemudian datang Dahlan Iskan dan Jokowi membawa obor kehidupan untuk rakyat, yang kendatipun sudah bekerja seharian baru cukup untuk tidak kelaparan esok harinya. Semoga perjalanan panjang menuju 2014 ketiga orang pembawa harapan rakyat Indonesia tersebut (Yusuf Kalla, Dahlan Iskan, dan Jokowi) tidak diterkam manusia serigala di tengah jalan.

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.