SALURAN INVESTASI POLITIK

SALURAN INVESTASI POLITIK

Ruslan Ismail Mage (Direktur Eksekutif SIPIL INSTITUT)

 

Ada empat saluran efektif investasi politik jangka panjang. Pertama, saluran ekonomi. Dalam politik selalu membutuhkan modal untuk meraih jabatan atau kekuasaan. Menurut paham liberalisme, pemisahan tegas antara ‘ekonomi’ dan ‘politik’ itu hanyalah suatu ilusi. Artinya tidak ada ekonomi yang terpisah dari politik, sebagaimana tak ada politik yang terlepas dari ekonomi. Untuk investasi politik jangka panjang, modal yang dibutuhkan relatif sangat kecil dibanding investasi politik jangka pendek yang membutuhkan modal tak terbatas. Modal yang dikeluarkan relatif sedikit, karena sebelumnya sudah melakukan investasi sosial di tengah masyarakatnya.

Kedua, saluran komuniasi. Saluran ini terbagi dua yaitu menggunakan media massa dan komunikasi face to face (tatap muka langsung). Untuk menyentuh kesadaran memori kelas menengah ke atas (pemilih berpendidikan), gunakan saluran media massa yang memiliki jangkauan lebih luas. Menurut teori media dan politik, tidak satupun politikus bisa meraih kemenangan tanpa bantuan media massa. Untuk memanfaatkan peran media massa secara efektif, dibutuhkan seorang manajer pemberitaan yang ahli mengemas berita yang sifatnya persuasif. Peristiwa sekecil apapun bisa dikemas menjadi pemberitaan yang mengagumkan publik. Sementara komunikasi tatap muka langsung dibutuhkan untuk menyapa pemilih tradisional di sudut-sudut desa. Secara psikologis, masyarakat di desa-desa lebih senang disapa langsung oleh calon pemimpinnya. Proses interaksi langsung ini harus dilakukan dari awal untuk menghindari kesan “baik kalau ada maunya”, karena kalau kesan negatif ini sudah muncul dalam pasar demokrasi, maka bisa dipastikan seorang kandidat tidak akan dipilih oleh rakyat.

Ketiga, saluran budaya yang meliputi etika, perilaku dan moralitas. Dalam mengaplikasikan saluran kedua di atas, seorang kandidat pemimpin harus didukung oleh etika dan perilaku yang baik. Pasar demokrasi modern menempatkan persyaratan moralitas ini sebagai pertimbangan utama. Karena itu, seorang kandidat pempimpin wajib memiliki etika dan perilaku yang sopan kalau mau dapat simpatik dari rakyat. Sebisa mungkin etika dan perilakunya dijaga untuk menghindari isu-isu yang berhubungan dengan moralitas. Dalam literatur pembungunan politik di negara-negara demokrasi modern menunjukkan, semua kandidat pemimpin pasti tersingkir kalau sudah diserang dengan isu-isu moralitas. Sesempurna apapun kerakter seorang pemimpin, kalau sudah bersinggungan dengan wilayah moralitas (khususnya perselingkuhan dan korupsi) pasti ditinggal pemilihnya. Rakyat tidak pernah akan rela memilih pemimpin yang melanggar nilai-nilai moralitas.

Keempat, saluran MLM (multi level marketing). Saluran ini sangat efektif dengan menciptakan jaringan-jaringan sosial yang tidak terbatas ke beberapa komunitas produktif di tengah masyarakat. Dengan menggunakan metode MLM seorang kandidat pemimpin harus jauh hari sebelumnya sudah rajin menyapa dan mengunjungi tokoh-tokoh masyarakat atau kelompok-kelompok produktif lainnya. Misalnya bagaimana mendekati komunitas tukang ojek dengan mendirikan koperasi yang bertujuan mengakomodasi kebutuhan dasar mereka. Caranya tidak perlu investasi modal banyak, cukup hanya menyediakan jaket seragam. Setelah itu organisir mereka menjadi anggota koperasi dengan simpanan wajib lima ratus sampai seribu rupiah sehari. Dengan simpanan wajib itu sudah bisa menyediakan asuransi kesehatan dan keperluan lainnya. Kalau ada seribu tukang ojek menjadi anggota koperasi, dan masing-masing bisa mempengaruhi lima orang saja (isteri, anak, saudara dan teman-taman lainnya), maka suara yang bisa terkumpul sudah ada lima ribu orang.

Hubungan-hubungan sosial ini oleh seorang kandidat pemimpin harus terjaga dengan baik dan disebar kebeberapa komunitas produktif lainnya di tengah kehidupan masyarakat, seperti komunitas petani, nelayan, pedagang pasar, pemuda, sampai ke komunitas  pereman sekalipun. Dengan metode pendekatan persuasif, coba  salami jiwa mereka, sapa mereka, dengarkan keluhanya, dan carikan solusi permasalahan dasar mereka dengan ide-ide kereatif di lapangan.

Jangan setelah mendaftar di KPU mencalonkan diri menjadi kandidat pemimpin baru terburu-buru mendekati komunitas mereka, karena pasti tidak akan mendapat pengaruh selain sikap arpriori masyarakat “siapa elo bersikap baik ketika ada maunya, emang gue pikirin”, demikian pasar demokrasi sering menyikapi perilaku politikus dadakan. Artinya kalau cerdas memanajemen (menjual) dirinya, orang yang tidak memiliki modal sekalipun bisa menjadi pemenang, karena di dalam pasar demokrasi  semua serba kemungkinan.

 

 

 

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.