Strategi Investasi Politik

Strategi Investasi Politik

Ruslan Ismail Mage (Direktur Eksekutif SIPIL INSTITUT)

 

Untuk sukses dalam industri politik, maka harus memahami dengan benar kerakteristik pasar demokrasi. Paling tidak ada empat kerakter dasar pasar demokrasi di Indonesia pasca reformasi. Pertama, pasar demokrasi selalu menganut paham kelasik “suara rakyat adalah suara Tuhan”. Kedua, harus memahami budaya (kebiasaan pemilih), meliputi tingkat emosi, etika dan komunikasi yang baik dalam kehidupan sosial kemasyarakatannya. Ketiga, harus memiliki kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual. Kecerdasan intelektual dibutuhkan untuk menjadi politikus yang mampu mengkalkulasi peluang yang dimiliki. Sementra kecerdasan spiritual sangat dibutuhkan untuk menjadi politikus yang  bermoral. Keempat, harus memiliki setumpuk modal untuk berinvestasi dalam pasar demokrasi.

Dalam menjabarkan kerakter kedua dan ketiga di atas, politikus sekarang banyak mengalabui pasar demokrasi dengan mengadopsi teori Machiavelli yang mengatakan “politikus (penguasa) harus pintar hadup dalam kepura-puraan.” Pura-pura, empati, bermoral, sopan, santun,  pintar, bersih, dan berbudi luhur. Sementara kerakter keempat di atas adalah penentu kemenangan dalam persaingan tidak sehat di pasar demokrasi. Ketika terjadi anomali politik antara beberapa kelompok kepentingn, maka kelompok yang mempunyai nilai investasi lebih tinggi yang biasanya menjadi pemenang tender politik.

Kondisi Industri politik dalam pasar demokrasi yang cenderung berpihak kepada individu/kelompok yang memiliki modal lebih besar, bukan berarti menutup peluang individu/kelompok lain yang kurang memiliki modal untuk menjadi pemenang. Dari beberapa hasil pilkada menunjukan, ada juga kandidat yang tidak mengeluarkan banyak modal bisa menjadi pemenang. Disinilah dibutuhan kecerdasan intelektual seorang calon pemimpin untuk memahami strategi investsi, karena kalau tidak memahami kiat-kiat sukses berinvestasi dalam industri politik, maka berapa pun modal yang disiapkan tidak pernah akan cukup. Dalam industri politik, keluar masuknya modal sangat susah terdeteksi, karena banyak dana siluman yang berkeliaran. Berbeda dengan industri barang lainnya, aliran modal yang keluar masuk dapat tercatat dengan baik.

Dalam teori ekonomi dikenal tiga tahapan investasi berdasarkan jangka waktunya, yaitu investasi jangka pendek, investasi jangka menengah, dan investasi jangka panjang. Sementara dalam industri politik, nampaknya lebih tepat kalau hanya membagi dua tahapan investasi, yaitu investasi jangka pendek dan investasi jangka panjang. Kedua tahapan investasi ini masing-masing membutuhkan modal untuk menguasai pasar demokrasi.

Sebelum melakukan investasi dalam industri politik, langka pertama yang harus dilakukan adalah memahami kerakter utama pasar demokrasi yang menempatkan rakyat sebagai penentu kemenangan (suara rakyat adalah suara Tuhan). Artinya siapa yang berhasil meraih simpatik rakyat, itulah yang pasti menjadi pemenang. Hanya saja untuk meraih simpatik rakyat tidak semudah lagi yang diperkirakan, karena secara alami telah terjadi proses pencerdasan politik. Tidak cukup hanya mengandalkan modal dan popularitas, tetapi sudah masuk pada kerakter kedua dan ketiga demokrasi di atas, yaitu memahami budaya setempat, mempunyai etika dan komunikasi yang baik, serta dikukung oleh kecerdasan intelektual dan kecerdasan  spiritual. Untuk lebih jelasnya bagaimana kiat-kiat sukses berinvestasi dalam industri politik, berikut strateginya.

Pertama, kita memulai dari investasi politik jangka pendek. Dalam pasar demokrasi, yang dimasud investasi politik jangka pendek adalah investasi yang dilakukan secara mendadak oleh politikus yang mau bertarung dalam perebutan kekuasaan tanpa harus mengeluarkan keringat. Politikus dadakan ini muncul tiba-tiba karena didukung oleh faktor modal dari komunitas tertentu tanpa memiliki jaringan sosial di tengah masyarakat. Dengan setumpuk modal yang dimiliki, politikus jalangkung ini (datang tak diundang pergi tak diantar) mencoba ikut bertarung dalam perebutan kekuasaan dengan harapan suara rakyat dapat diarahkan kepadanya.

Dalam industri politik, Berapa pun modal yang disiapkan akan habis tak berbekas kalau hanya diinvestasikan dalam jangka pendek. Dari beberapa hasil pilkada yang digelar di seluruh Indonesia, banyak data menunjukkan bahwa kandidat yang hanya melakukan investasi jangka pendek (muncul tiba-tiba menjelang pilkada) tidak laku diual dipasaran. Kemunculannya yang mendadak seperti jalangkung (siluman) tanpa disadari justru telah mengagetkan pasar, bukan mangambil simpatik pasar. Berangkat dari kerakter pasar demokrasi inilah, maka investasi jangka pendek dalam industri politik biasanya selalu gagal. Pasar demokrasi tidak mau terkecoh lagi dengan politikus jalangkung.

Politikus jelangkung ini biasanya tidak segang-segang menghamburkan uang untuk mengkatrol popularitasnya. Dengan setumpuk modal yang dimiliki ia sanggup  membangungkan orang tidur sekalipun untuk menatap gambar dan foto dirinya di media elektronik dan di media cetak. Hampir semua ruang dan waktu bisa dibeli untuk menyapa rakyat secara dadakan. Spanduk tersebar di setiap sudut kota dan desa untuk memproklamirkan drinya sebagai orang yang lebih sempurna dibanding orang lainnya.

Kedua, investasi politik jangka panjang. Dalam pasar demokrasi, yang dimaksud investasi politik jangka panjang adalah investasi yang dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya. Katakanlah untuk ikut pemlu legislatif atau mau ikut bursa pilkada / pilpres, maka minimal lima tahun sebelumnya sudah menentukan sikap dengan beberapa orang kepercayaan secara diam-diam tanpa tereksploitasi, untuk kemudian merancang strategi investasi politik  secara sistematis.

Ada dua kelebihan mendasar investasi politik jangka panjang. Pertama, adalah tidak membutuhkan modal terlalu banyak. Bahkan kalau memahami saluran investasinya, maka industri politik itu pada dasar menjadi sangat murah.  Investasi ini hanya membutuhkan tidak lebih dari sepuluh orang-orang kepercayaan yang cerdas dan kreatif memanfaatkan moment-moment tertentu untuk memperkenalkan kerakter dan ketokohan seseorang yang mau maju dalam perebutan jabatan atau kekuasaan ditingkat daerah maupun tingkat pusat. Kedua, pasar demokrasi tidak merasa dikagetkan, karena tanpa disadari kerakter tokoh yang mau dimunculkan telah tersosialisasi secara diam-diam  dan sistematis menyentuh kesadaran memori publik.

 

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.