Tabungan Suara

Tabungan Suara

Ruslan Ismail Mage (Direktur Eksekutif SIPIL INSTITUT)

 

Dengan mengadopsi teori ember dan saluran pipa air, kita akan mencoba memasuki industri politik di pasar demokrasi. Sebagai pemahaman awal bagaimana perbedaan kerja ember dan saluran pipa air, kita akan memulai dengan cerita analogi sederhana yang sangat mudah dianalisa dan diterapkan dalam industri politik untuk mendapakan hasil berupa jabatan atau kekuasaan. Lebih jelasnya, berikut analoginya.

Ada dua orang bertetangga yang mempunyai cara pandang yang berbeda dalam memenuhi kebutuhan air untuk kelangsungan hidupanya. Sumber mata air yang sama tidak membuat mereka memiliki persamaan pola pikir dan sikap dalam  mendistribusikan  air ke rumah masing-masing. Orang pertama (A) yang masih muda dan agresif memenuhi kebutuhan air dirumahnya dengan menggunakan dua ember besar. Setiap pagi harus menenteng dua ember besar di tangan dari sumber mata air yang relatif jauh dari rumanya. Sementara orang kedua (B) dalam memenuhi kebutuhan airnya, ia mencoba membuat saluran pipa air dari sumber mata air langsung ke penampungan di rumahnya. Dari segi waktu dan tenaga, napaknya B harus bekerja keras dulu dalam waktu yang lama untuk membangun saluran pipa-pipa airnya.

Perbedaan pola pikir dan cara kerja inilah yang menarik dikeritisi. Ember sebesar apapun akan habis airnya terpakai kalau tidak diisi secara rutin, karena ember tidak bisa bekerja sendiri tanpa bantuan pemiliknya. Lain halnya dengan cara kerja saluran pipa air, yang akan mengalirkan air terus-menerus dari sumber mata air ketujuan yang telah ditentukan. Artinya, ketika pemilik ember sudah tua dan secara fisik tidak mampu lagi untuk menenteng ember yang penuh air, maka secara otomatis suplei air kerumahnya terhenti. Lebih susahnya lagi karena waktu masih muda dan sehat tidak membuat penampungan air di rumahnya. Sementara orang pembuat saluran pipa air di usia tuanya tidak perlu lagi berpikir dan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan air, karena di waktu mudanya sudah bekerja keras membuat saluran pipa air langsung ke rumahnya.

Pesan yang ingin disampaikan dari cerita analogi di atas adalah mamfaat menabung dalam menata masa depan. Orang pertema mengalami kegagalan finasial dihari tuanya, karena pendapatan melimpah dimasa mudanya tidak ada disisihkan untuk diinvestasikan. Sementara orang kedua walaupun pendapatannya tidak banyak, ia sempat menyisihkan sebagian gajinya setiap bulan untuk investasi masa depan dalam bentuk tabungan di bank atau membeli saham.

Kalau cerita analogi di atas mau diadopsi dalam industri politik, maka penekanannya adalah politikus yang sudah memiliki tabungan suara lebih besar kemungkinannya untuk memenangkan perebutan kekuasaan. Sementara politikus yang muncul mendadak hanya karena mengandalkan faktor modal yang melimpah (ember besar) susah menjadi pemenang, karena tidak memiliki jaringan-jaringan sosial (saluran pia air).

Untuk memiliki tabungan suara, politikus harus melakukan investasi politik jangka panjang dengan membangun lebih awal saluran-saluran suara dari sumber-sumber suara di tengah masyarakat. Supaya semua kelompok-kelompok produktif dalam masyarakat bisa menjadi sumber penampungan yang akan mengalirkan suara terus-menerus masuk ke rekenin tabungan suara, maka ciptakan hubungan silaturrahmi dengan memakai konsep hablulminannas. Sehingga ketika pasar demokrasi (bursa caleg, pilkada, pilpres) dibuka untuk umum, maka orang yang sudah memiliki tabungan suara tidak perlu lagi terlalu banyak mengeluarkan dana untuk ikut bertarung memperebutkan kekuasaan. Selain bentuk tabungan suara, politikus juga bisa memperbanyak pundi-pundi suaranya dengan menanam saham pada beberapa komunitas produktif lainnya.

 

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.