Teori Bertinju Dalam Pemilu

Ruslan Ismail Mage

(Direktur Eksekutif Sipil Institut Jakarta)

Judul tulisan ini mungkin tidak hanya menggelitik tetapi juga sedikit ekstrim, karena terkesan mengarjakan bertinju dalam politik. Bukankah dalam dunia politik dianjurkan untuk mematuhi etika politik. Jangankan saling memukul, sikut-sikutan saja sudah melanggar etika politik. Karena itu, jangan keburu menvonis tulisan ini mengajarkan radikalisme dalam politik sebelum selesai membacanya, karena yang ingin diperkenalkan adalah suatu strategi cerdas memenangkan pertarungan di atas ring politik. Bahkan mengabaikan teori bertinju dalam politik ini, berarti secara langsung mengurangi peluang untuk menjadi pemenang dalam arena politik. Suatu arena berlebel pertarungan serba keras dan cenderung menghalalkan segala cara untuk mengkanvaskan lawan-lawan politiknya. Lalu apa hubungannya bertinju dengan politik?

teori bertinju dalam pemilu

Dalam suatu kesempatan memberikan workshop investasi politik dihadapan rartusan politisi perempuan yang tergabung dalam KPPI (Kaukus Perempuan Politik Indonesia), tim kreatif Sipil Institut memutar rekaman pertandingan tinju berdurasi sepuluh menit. Semua peserta workshop serius menyaksikan bagaimana kehebatan petinju asal Philipina Manny Pacquiao mengkanvaskan lawannya dipertengahan ronde kesepuluh. Penonton pun di MGM Grand Garden Arena di Las Vegas bergerumuh bersorak menyambut lahirnya sang juara di enam kelas berbeda. Sedikit kontras dengan suasana peserta workshop yang diam dengan ekpresi wajah keheranan dan mungkin bertanya-tanya dalam hati, apa hubungannya materi strategi investasi politik dalam memenangkan pemilu dengan menonton rekaman pertandingan tinju.

Untuk menghentikan kebingungan peserta workshop, saya langsung memberikan suatu pertanyaan : Dimanakah kemenangan seorang petinju di tentukan, apakah di atas ring atau di luar ring? Pertanyaan ini sederhana tetapi jawabannya bisa memberi gambaran awal kerakter seorang politisi. Hampir 90% menjawab bahwa kemenangan seorang petinju di tentukan di atas ring. Jawaban seperti ini, mengindikasikan bahwa hampir semua politisi yang muncul ke permukaan mengabaikan hukum proses. Akibatnya ribuan politisi secara tragis tersingkir keluar arena karena tidak mempersiapkan diri secara sistematis dari awal untuk memasuki arena pertarungan pemilu. Kalau sudah hujan baru bergegas mencari payung dipastikan kehujanan, kalau sudah musim ujian baru sibuk cari buku dipastikan nilainya tidak memuaskan. Kalau hanya muncul tiba-tiba pada saat musim pemilu, dipastikan berpeluang besar menjadi pecundang politik. Inilah pentingnya politisi memahami teori bertinju dalam pemilu.

Adalah John C. Maxwell yang menguraikan hubungan bertinju dengan kepemimpinan dalam bukunya berjudul : “The 21 Irrefutable Laws of Leadership.” Menurutnya ada ungkapan kuno bahwa : Para juara tidak menjadi juara di dalam ring, hanya saja mereka dikenal menjadi juara di sana. Jika ingin melihat di mana seseorang berkembang menjadi juara, lihatlah rutinitasnya sehari-hari. Sipil Institut kemudian merekontruksinya menjadi “Teori Bertinju dalam Pemilu” yang menegaskan bahwa : “Kemenangan seorang petinju tidak ditentukan di atas ring, tetapi konsistensinya berlatih hari demi hari di luar ring.” Tinju adalah analogi yang tepat untuk menggambarkan perjalanan seorang politisi terampil merebut kekuasaan.

Dalam perkembangan demokrasi yang semakin menuntut kecerdasan politisi dan pemilih, teori bertinju dalam pemilu ini sangat relevan dikedepankan. Kalau memakai analogi tinju ini membedah perjalanan seorang politisi, maka dapat dikatakan “Kemenangan seorang politisi tidak ditentukan di atas panggung kampanye tetapi oleh konsistensinya menjadi aktor sosial yang mendesain gerakan-gerakan sosial kemasyarakatan jauh sebelum musim pemilu.” Jadi kalau politisi ingin menjadi pemenang dalam pemilu, tidak salah mengadopsi cara lahirnya seorang sang juara. Seorang juara sejati tidak akan lahir hanya dalam satu bulan berlatih, tetapi membutuhkan rutinitas latihan dengan waktu yang cukup lama. Bahkan jika seseorang memiliki bakat alamipun, ia harus mempersiapkan diri dan berlatih jika ingin sukses.

Theodore Roosevelt adalah mantan Presiden Amerika Serikat yang terkenal tangguh menggunakan metode bertinju dalam meniti karier kepemimpinnya yang menggetarkan jamannya. Salah satu kutipannya yang paling terkenal menggunakan analogi tinju : “Bukannya kritikus yang penting, bukannya orang yang menunjukkan bagaimana orang kuat itu tersandung, atau di mana pelaku itu dapat melakukannya dengan lebih baik. Kreditnya adalah kepunyaan orang yang benar-benar dalam arena, yang wajahnya memar, penuh keringat serta darah, yang berjuang dengan berani, yang berulang-ulang membuat kekeliruan, yang mengenal antusiasme serta berdedikasi dalam mengejar tujuan yang layak, yang dengan kemungkinan terbaiknya akhirnya meraih kemenangan, dan yang dengan kemungkinan terburuk jika gagal, setidaknya gagal setelah mencoba dengan berani, sehingga tempatnya takkan pernah bersamaan dengan jiwa-jiwa dingin serta pengecut yang tidak mengenal kemenangan maupun kekalahan.”

Seorang juara sejati memupuk kemampuannya perlahan-lahan, menabung kekuatannya sedikit demi sedikit, untuk kemudian dieksploitasi semua nilai lebihnya di dalam arena. Seorang politisi cerdas memupuk kesuksesannya tahap demi tahap, mengurai jalannya langkah demi langkah menuju arena pertarungan perebutan kekuasaan dalam pemilu. Dalam catatan sejarah kepemimpinan dunia menyebutkan, tidak ada pemimpin besar yang lahir dadakan. Semuanya konsisten disiplin memupuk kemampuannya perlahan-lahan. Setiap waktu berlatih mengembangkan wawasan dan keilmuannya, meningkatkan kemampuan berpikir kalkulatif dan proses penyelesaian masalah, memperluas jaringan-jaringan sosial ke dalam setiap komunitas, dan tidak pernah berhenti untuk belajar.

Untuk menjadi sang juara gunakan hari-harimu untuk berlatih keras. Untuk menjadi pemimpin besok belajarlah hari ini. Untuk hidup sejaterah di hari tua gunakan hari muda menabung. Untuk menjadi pemenang dalam pemilu konsistenlah dari awal menjadi pelayan-pelayan kemanusian. Apa yang dilakukan seseorang secara berdisiplin dan konsisten akan membuatnya selalu siap menyambut kemenangan. Kata Benjamin Disraeli, “Rahasia sukses hidup ini adalah siap ketika kesempatan itu datang.” Hanya orang yang mengisi hari-harinya untuk menggali potensi dirinya yang tidak akan terkecoh datangnya kesempatan itu. Hanya politisi yang cerdas mengisi hari-harinya untuk terus belajar yang akan menjadi pemimpin besar masa mendatang. Berkacalah pada proses perjalanan seorang petinju mengankat tropy di atas ring, lalu bersiaplah menjadi seorang pemenang dengan biaya politik minimal.

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.