Teori Memancing Dalam Pemilu

Ruslan Ismail Mage

(Direktur Eksekutif Sipil Institut Jakarta)

Secara sepintas membaca judul tulisan di atas pasti berpikir dan bertanya apa hubungan memancing dangan politik. Tidak nyambung bro kata bahasa gaul anak muda sekarang. Orang pintar bisa saja menvonis tidak ada hubungan antara memancing dengan politik, tetapi orang cerdas mencoba melihat lebih jauh, mendengar lebih tajam, dan berpikir lebih analisis, dalam mengapresiasi suatu informasi atau konsep untuk kemudian dikontruksi menjadi pemikirannya. Disinilah menariknya, karena untuk menjadi politisi hebat dan terampil tidak cukup hanya pintar tetapi harus cerdas. Politisi pintar biasanya menjadi petarung yang berakhir sebagai pecundang. Sementara politisi cerdas biasanya menjadi pemenang. Berangkat dari pemikiran itulah yang menjadikan materi tulisan ini penting dipahami, karena hanya politisi cerdas yang bisa memakai teori memancing ini dalam memenangkan pemilu. Tidak percaya! Ikuti pembahasan berikut ini.

Teori Memancing dalam Pemilu

Awalnya seorang bernama Dale Carnegie yang memperkenalkan konsep memancing dalam mencari relasi pertemanan di bukunya berjudul “How to Enjoy your Live and your Job”. Kemudian Sipil Institut merekontruksinya menjadi “Teori Memancing dalam Pemilu”. Hasil rekontruksi teori memancing ini mengatakan “Hobbi saya memancing, tetapi kegemaran saya makan pisang bakar. Entah apa alasannya ikan sangat suka cacing. Jika sedang memancing tidak memikirkan apa yang saya suka, tetapi memikirkan apa yang disuka ikan. Jika ingin mata pancing mendapatkan ikan saya tidak memberi umpan pisang bakar, tetapi memberi umpan cacing”. Nampaknya sederhana dan bisa dilogikakan, lalu mengapa tidak memakai teori memancing ini jika ingin mendapatkan suara dalam pemilu.

Dimusim pemilu, baik Pemilu Presiden, Pemilu Legislatif, dan Pemilukada, semua politisi pada dasarnya tanpa disadari sedang mengikuti lomba memancing memperebutkan kursi kekuasaan. Untuk mendapatkan ikan seorang pemancing tidak sekedar hanya mengayunkan seekor cacing atau belalang di depan ikan, tetapi harus memahami strategi kapan harus menarik mata pancingnya ketika sudah disambut ikan. Faktanya walau sudah masuk ke mulut ikan mata pancingnya bisa saja lepas lagi kalau tidak tepat cara menariknya. Tidak jarang juga ditemui seorang pemancing mengalami kekecewaan dan putus asa karena umpan yang diberi hanya habis dipermaikan ikan.

Begitu pula dalam musim pemilu, politisi berlomba-lomba mencari pengaruh disetiap komunitas masyarakat dengan berbagai metode pendekatan. Umumnya politisi datang memperkenalkan dirinya, visi misinya, dan mengutarakan janji-janji politiknya di hadapan rakyat tanpa memahami terlebih dahulu apa keinginan rakyat yang selama ini diabaikan penguasa. Politisi mendatangi rakyat membawa keinginannya untuk dipilih nanti dalam pemilu. Politisi datang menemui pemilih membawa pikirannya ingin dibantu memenangkan pemilu. Apa yang terjadi kemudian, rakyat yang sudah berkumpul menunggunya kurang mengapresiasinya karena salah memberi umpan yang bisa menarik pemilih memberikan suaranya.

Jadi pada dasarnya politisi pintar itu egois, karena maunya apa yang dipikirkan itu juga yang dipikirkan rakyat, apa yang diinginkan itu juga yg diinginkan rakyat. Inilah kebodohan terbesar yang dihadapi politisi, selalu menyamakan keinginan dirinya sebagai politisi dengan keinginan rakyat sebagai pemilih. Semestinya dibalik, keinginan pemilih yang harus disamakan dengan keinginan politisi untuk diperjuangkan. Bukankah dari dulu keinginan politisi hanya satu ingin berkuasa, dan bukankah keinginan rakyat dari dulu hanya satu ingin hidupnya damai dan sejahtera.  Kalau politisi mendatangi rakyat membawa keinginan dan harapannya sendiri, bersiaplah ditinggal rakyat. Tetapi jika politisi datang membawa kesederhanaan dan kerendahan hati untuk mendengarkan keingin dan harapan rakyat, dan mencari solusi alternatif untuk mewujudkannya, ini jauh lebih dahsyat dalam mempengaruhi pemilih.

Kata kunci yang ditawarkan Dale Carnegie dalam mencari pengaruh apa pun bentuknya yang perlu dimaknai politisi adalah : “Satu-satunya jalan di dunia ini untuk mempengaruhi orang lain adalah dengan jalan membicarakan tentang apa yang mereka inginkan dan menunjukkan jalan bagaimana mereka bisa memperolehnya.” Jadi kalau ingin memancing dan mendapatkan suara rakyat dalam pemilu, pikirkanlah apa kesukaan dan keinginan rakyat. Lalu segera merumuskan jalan untuk mewujudkan keinginan rakyat tersebut. Keinginan dan harapan semua rakyat tidak susah-susah amat, kalau ada niat dan kemauan untuk mewujudkannya. Pada dasarnya politisi hanya menjadi mediator antara apa keinginan rakyat dengan kemampuan negara untuk memenuhinya.

Setelah membaca buku ini, segeralah pergi memancing suara di tengah komunitas yang banyak tersebar di tengah masyarakat. Pahamilah kerakter dan keinginan setiap komunitas yang ingin dipancing suaranya. Jangan langsung melempar umpan tanpa mengetahui apa kesukaan komunitas tersebut. Salah memberi umpan mata pancingnya, dipastikan pulang gigi jari tanpa hasil. Salah satu contoh adalah komunitas tukang ojek pasti berbeda kerakter dan keinginannya dengan komunitas ibu-ibu pedagang sayur di pasar. Begitu pula berbeda caranya memancing suara komunitas petani dengan suara komunitas nelayan. Untuk mengetahui keinginan pemilih tidak cukup hanya mengirim tim suksesnya, terlebih hanya mengirim spanduk dan baliho untuk menyapa pemilih. Politisi harus konsisten datang langsung mendengarkan apa keinginan dan harapan mendesak pemilih yang selama ini terabaikan.

Kalau konsisten memakai teori memancing dalam pemilu, politisi akan mendapatkan beberapa keuntungan. Pertama, bisa mengurangi biaya politik karena menerapkan metode investasi politik dari awal, bukan metode pemasaran politik yang cenderung mengandalkan uang untuk menyogok pemilik suara. Kedua, memiliki tabungan suara yang akan berbunga suara pada waktu pemilu berlangsung. Ketiga, secara alami mereinkarnasi dirinya menjadi aktor sosial yang merakyat dan familiar di kalangan komunits-komunitas pemilih. Kondisi menguntungkan ini akan tersebar terus kesetiap ruang-ruang publik sebagai tokoh yang dekat dengan masyarakat bawah.

Memperkaya Teori Memancing ini, Sipil Institut menguncinya dengan mengutip pendapat Owen D. Young yang berkata : “Orang yang bisa meletakkan dirinya di tempat orang lain, dan bisa memahami jalan pikiran orang lain, tidak pernah perlu mencemaskan apa yang tersedia untuknya di masa depan.” Jika ingin menjadi politisi sejati yang konsisten berpihak kepada rakyat, tidak ada alasan untuk menunda memakai teori memancing ini, lalu rasakan kebenaran judul buku ini berpolitik dengan biaya murah. Selamat dan sukses menjadi pemancing professional, karena kemenangan siap menantinya.

*******

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.